Oleh : Desianto B Utomo Ph.D
Kondisi pertumbuhan industri perunggasan terlihat dengan adanya peningkatan pola kemitraan antara produsen (peternak) dan industri swasta, termasuk pabrik pakan yang memainkan peran penting dalam industri perunggasan Indonesia. Namun, berdasarkan laporan oleh lembaga pengamat pertumbuhan ekonomi Iowa, sangat disayangkan bahwa industri perunggasan kawasan ASEAN, terutama Indonesia, masih terjebak dalam biaya ekonomi tinggi. Hal ini antara lain disebabkan karena sebagian bahan pakan masih impor dan rendahnya tingkat efisiensi, serta lambannya adopsi teknologi. Masa depan industri ini sangat ditentukan akan kemampuannya mengelola cost, di samping kemampuan dalam melakukan kontrol terhadap tantangan penyakit dan upaya kampanye gizi untuk lebih meyakinkan konsumen tentang keamanan dan manfaat produk ayam.

Pertumbuhan industri perunggasan di kawasan Asia Tenggara kian berkembang dan terjadi dalam kerangka industrial berskala besar nan intensif

Industri unggas ini ke depannya, dan itu tidak terlalu lama lagi, akan dihadapkan tantangan besar berupa perubahan secara mendasar (fundamental shifting) dalam memasuki era persaingan yang lebih kompetitif dalam struktur perubahan Devices-Network-Applications (D-N-A). Dalam artian, industri ini akan bergumul dengan perubahan regulasi dan persaingan global, termasuk di dalamnya kepiawaian dalam mengelola dan berhadapan dengan dampak perubahan. Sebagaimana telah terjadi perubahan paradigma di berbagai industri, yakni cara mengelola metamorfosa dalam bisnis, antara lain: media elektronik yang menjelma menjadi media sosial; transaksi tatap muka berganti dengan transaksi online; pembayaran uang cash menjadi cashless (uang digital) semisal e-Toll; hingga jasa jual beli berubah menjadi jual beli virtual (Bubble Value).
Semua benda terhubung ke internet (Internet of Things/IoT) kini terus berubah menjadi semua hal terhubung ke internet (Internet of Everything/IoE), dan menjelma menjadi Big Data sebagai cikal bakal konsep Industri 4.0 di mana industri lingkungan yang serba terhubung. Big Data itu kemudian menjadi bisnis jual beli informasi (statistik, perilaku konsumen, tren, peta pasar, daya beli, dan sebagainya). Dari Big Data tersebutlah bisa dijadikan bahan untuk pengambil kebijakan (policy making), penentuan strategi dan pengambilan keputusan (decision making), penciptaan model bisnis baru, dan lain-lain.
Baca Juga : Industri 4.0 dalam Mekanisasi Budi Daya Unggas
Gambaran evolusi teknologi tersebut sudah menjadi sesuatu yang pasti dan jelas arahnya. Namun, ketika diterapkan menjadi bisnis baru, dampak sosial-ekonomi dan dampak lainnya sering kali tidak terduga. Hal itu menuntut perlu adanya penataan isu regulasi dan hukum yang terkait pada perilaku bisnis online, privacy dan data protection. Peluang baru tersebut pun terus mengundang pemain barang baru.
Internet of Things (IoT) yang tidak menuntut jaringan broadband, telah memicu perlombaan baru dalam menawarkan jaringan akses wireless bagi jutaan atau bahkan miliaran benda-benda yang akan dihubungkan ke internet. Akibatnya, muncul kebutuhan spektrum frekuensi radio baru dan menjadi tantangan baru bagi pemerintah sebagai regulator; muncul pula persaingan baru di tingkat usaha kecil dan menengah. Penulis merupakan Anggota Dewan Riset Nasional dan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 91 dengan judul “Bisnis Unggas dalam Era Internet of Things”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153