Sektor budidaya menyumbangkan perputaran ekonomi yang tinggi di daerah rural
POULTRYINDOENSIA, Jakarta – Ayam ras baik tipe pedaging maupun petelur memang masih menjadi primadona beternak bagi masyarakat Indonesia. Siklus pemeliharaan yang cepat serta mampu menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak tentu menjadi pilihan utama dalam pemenuhan konsumsi protein hewani masyarakat.  Akhir-akhir ini ada pemandangan yang menarik di sepanjang jalur pantura, dari Jawa Timur hingga Jawa Barat, banyak dijumpai bangunan kandang tipe closed house dengan kapasitas puluhan ribu ekor ayam.

Sektor budi daya perunggasan memang menjanjikan bagi mereka yang tahu akan nilai dari budi daya. Kembalinya modal investasi yang cukup cepat menjadikan budi daya ayam ras digemari oleh banyak lapisan masyarakat, baik skala menengah maupun yang skala besar.

Kondisi ini tentu membanggakan bagi masyarakat peternakan Tanah Air. Bagaimana tidak, dulu sektor peternakan dianggap sebagai sektor agribisnis yang kotor, bau, dan kurang prestisius. Setidaknya itulah pandangan generasi milenial yang lahir antara tahun 1985-1995 dalam melihat bisnis budi daya peternakan. Namun kini, pandangan tersebut secara perlahan hilang dengan banyaknya orang dengan latar belakang bukan peternakan, ikut bermain dalam bisnis budi daya ayam ras. Seiring dengan meningkatnya kelas menengah yang ikut mendorong daya beli masyarakat akan produk pangan hewani, bisnis budi daya ayam ras mulai dilirik oleh para pemodal.
Baca Juga : Membaca Sederet Peluang Bisnis Perunggasan
Salah seorang peternak muda asal Tegal, Jawa Tengah, Beny Kustianto, mengatakan bahwa usaha penggemukan ayam dengan sistem kandang closed house hingga saat ini masih menjadi usaha pilihan. Pasalnya, selain kualitas dan kuantitas produksi ayam yang terbilang sempurna saat panen, laba pendapatannya pun sangat menguntungkan. “Saya asumsikan penghasilan bagi para peternak kemitraan, jika hasil bersihnya Rp3.500 per ekor lalu dikalikan 40.000 jumlah populasi di kandang, maka akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp140 juta sekali panen. Sementara dalam kurun waktu 1 tahun, peternak dapat panen sebanyak 7-8 kali,” jelas Beny.
Beny melanjutkan, dengan hitung-hitungan tersebut, maka peternak kemitraan yang menggunakan kandang closed house bisa mampu meraup hasil Rp1,12 miliar per tahun. Sementara jika beternak dengan sistem mandiri, laba bersihnya dapat mencapai Rp6.000 ekor per panen. Hanya saja, dengan kondisi harga ayam hidup yang berfluktuasi, maka laba bersih tersebut tidak selalu bisa peternak dapatkan ketika panen tiba. Cukup besarnya laba dari bisnis ini membuat kandang ayam tipe closed house di kota Tegal saat ini semakin menjamur. Hal tersebut juga tidak lepas dari peran aktif pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat dalam mempermudah akses perizinan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul “Daya Tarik Sektor Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153