bisnis perunggasan masih menjadi daya tarik utama bagi investor di sektor peternakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Suasana pertemuan para pejabat Direktorat Jenderal PKH Kementerian Pertanian bersama para jurnalis cukup ramai siang itu. Sebuah rumah makan di Jakarta Selatan dipilih sebagai tempat pemaparan capaian kerja direktorat tersebut selama empat tahun terakhir. I Ketut Diarmita, dalam sesi pemaparannya, menyatakan bisnis perunggasan masih menjadi daya tarik utama bagi investor di sektor peternakan.

Dalam tantangan yang beragam terdapat peluang yang menawarkan keuntungan. Pemerintah dan pelaku bisnis perunggasan pun optimis potensi yang ada pada 2019 dapat dioptimalkan sebaik mungkin.

Ia mengatakan bahwa dalam semester pertama pada tahun 2018, nilai investasi sektor perunggasan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp342,11 miliar dan untuk Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar US$25,4 juta. Jumlah itu pun diyakini terus bertambah seiring perkembangan supply dan demand produk unggas dari waktu ke waktu.
“Kami selaku pihak pemerintah berusaha memfasilitasi kebutuhan para investor dengan baik. Bahkan untuk saat ini sektor perunggasan kita sudah mengalami kemajuan yang pesat. Kita sudah bisa ekspor olahan daging ayam ke berbagai negara, termasuk negara yang ketat persyaratannya seperti Jepang,” ujar Ketut, Senin (12/11/18). Kegiatan ekspor itu pun terus diupayakan ke berbagai negara tujuan baru. Terlebih lagi, hingga akhir 2018, Kementerian Pertanian menyatakan bahwa produk unggas dalam negeri mampu menjaga tren surplusnya.
Baca Juga : Beranjak dari Terjalnya Bisnis Perunggasan 2018
Menurut data Direktur Bibit dan Produksi Direktorat Jenderal PKH, Ir. Sugiono, MP., sejauh ini terdapat pelaku usaha pembibitan ayam ras yang turut berkontribusi terhadap swasembada daging dan telur ayam ras di Indonesia. Adapun jumlahnya yaitu 14 pembibitan grandparent stock (GPS) broiler, 5 pembibitan GPS layer, 48 pembibitan parent stock (PS) broiler dan 17 pembibitan PS layer. Terkait rincian impor GPS pada tahun 2019, Sugiono mengatakan bahwa hal tersebut masih dalam hitungan tim analisis dan tergantung pula pada hasil evaluasi jumlah GPS tahun sebelumnya. Sementara itu, hasil audit GPS broiler 2018 adalah sebanyak 779.000. “Untuk tahun 2019 bibit broiler dan layer dipastikan aman,” ujarnya, Selasa (22/11/18).
Sepanjang 2018, day old chick (DOC) final stock (FS) broiler yang diproduksi rata-rata sebanyak 59,56 juta ekor per minggu. Dengan jumlah tersebut, jumlah rata-rata karkas broiler yang dihasilkan per bulan sebanyak 277.801 ton. Sementara itu, kebutuhan terhadap karkas broiler sebesar 255.319 ton per bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa terdapat surplus sebesar 22.482 ton karkas broiler dalam rata-rata per bulannya. Produksi telur ayam ras juga mengalami surplus. Rata-rata produksi per bulan selama 2018 sebesar 213.457 ton. Sementara kebutuhan terhadap telur ayam ras rata-rata per bulan adalah 147.201 ton. Dengan demikian maka surplus pada produksi telur ayam ras rata-rata per bulannya adalah 66.256 ton.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Membaca Sederet Peluang Bisnis Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153