Pembahasan tentang komoditas jagung selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian mengklaim produksi jagung nasional pada tahun 2018 bisa mencapai 30 juta ton. Namun hal ini diragukan oleh banyak kalangan. Salah satunya oleh Tony J. Kristianto, peneliti Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS) yang menyatakan bahwa klaim pemerintah telah surplus jagung masih perlu dipertanyakan.
Menurutnya, angka produksi jagung 30 juta ton itu dalam bentuk sudah pipilan atau masih tongkol basah. “Kalau masih tongkol kemudian dipipil, hasilnya sekitar 20 juta ton, itupun masih diragukan kalau melihat data dari sumber lain,” terangnya.
Tony berujar, dengan data perbandingan dari United States Department of Agriculture (USDA), produksi jagung nasional pada tahun 2018 berkisar 11-12 juta ton, sedangkan kebutuhan jagung nasional sekitar 12-13 juta ton. Baginya, hal tersebut bisa dikoreksi dengan data kebutuhan jagung pabrik pakan ternak.
Baca Juga : Tata Niaga Jagung Perlu Subsidi Logistik
Berdasarkan data yang ia miliki, sebanyak 80 persen pangsa pasar jagung nasional diserap oleh pabrik pakan, sisanya sebanyak 10 persen untuk peternak layer, 5 persen untuk pangan, dan 5 persen lagi untuk lain-lain. “Melihatnya begini saja, pabrik pakan ternak selama ini hanya menggunakan jagung sebanyak 5 juta ton, sedangkan kebutuhannya sekitar 9 juta ton. Tapi selama ini kekurangan sebanyak 4 juta ton ditutupi dengan gandum, kalau memang surplus kenapa harus diganti gandum,” ungkapnya saat menjadi narasumber dalam Bincang-Bincang Agribisnis bertajuk Untung-Rugi surplus Jagung di Kawasan Kuningan Jakarta, Rabu (10/10).
Dalam kesempatan yang sama, Dean Novel yang merupakan pelaku usaha jagung asal Lombok juga berpendapat bahwa klaim pemerintah telah surplus jagung cukup meragukan. Pasalnya, sebagai pelaku usaha yang juga merupakan petani jagung, ia mengaku tidak yakin jika angkanya sudah mencapai 30 juta ton. “Kalau angka produktivitasnya naik tapi dryer juga tidak ada, itu cukup aneh. Pemerintah bilang dryer baru sedang dibangun, tapi di sisi lain angka 30 juta sudah keluar, jangan-jangan jagung itu adalah jagung yang masih dalam bentuk tongkol,” ujar Dean.
Baca Juga : Sekilas Tentang Pertanian Jagung Kalbar
Narasumber lain, Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies, ia berpendapat bahwa ada anomali data yang terjadi di komoditas jagung. “Kalau memang surplus, harga jagung seharusnya turun bukan malah merambat naik. Selain itu jika sekarang gandum menjadi bahan baku subtitusi jagung untuk pakan ternak, harusnya permintaan jagung juga turun karena telah diganti dengan gandum,” paparnya.