Telur cage free memiliki harga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan telur hasil budi daya model kandang intensif
Kendati tren telur cage-free sepertinya masih akan terus meluas dan kian banyak diadopsi perusahaan makanan, namun bukan berarti metode pemeliharaan ini tanpa sisi negatif. Benar bahwa metode cage free memberi kebebasan pada ayam untuk berkeliaran di luar kandang, namun pada saat yang bersamaan hal tersebut juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan dan keamanan pekerja, serta tentu saja keterjangkauan harga telur itu sendiri.
Sebuah studi melaporkan 12% dari ayam petelur cage-free mati prematur akibat luka pada tulang, terlalu banyak mengais dan kanibalisme. Angka ini hampir dua kali lipat dari angka kematian ayam di kandang baterai. “Sekali terjadi kanibalisme, biasanya akan dengan cepat menyebar ke flock, karena ayam memiliki tabiat meniru sesamanya,” ujar Joy Mench, professor peternakan dari UC Davis yang menyelenggarakan studi. “Hal ini tentu berbeda dengan ayam yang berada dalam sangkar bersama 5 ekor ayam lain di dalam sistem kandang baterai. Di sebuah kandang besar dengan jumlah ayam yang banyak, kanibalisme akan dengan cepat menyebar,” tambahnya.
Baca Juga : 
Studi ini juga mengindikasikan adanya masalah higienis, kualitas udara dan kesehatan bagi ayam maupun bagi pekerja. Di dalam sangkar, kotoran jatuh ke lantai kawat, kemudian dikumpulkan dan dengan mudah dibersihkan dari ayam dan telur. Namun ketika ayam bebas berkeliaran akan lebih sulit mengetahui di mana telur dan kotoran berada. Sementara pada saat yang sama, material yang digunakan ayam untuk ‘mandi debu’ yang berupa jerami atau serbuk gergaji, akan berhamburan di darat dan menghasilkan tingkat debu 8 hingga 10 kali lipat dibanding sistem sangkar.
Melihat berbagai aspek positif dan negatif dari telur Cage Free tersebut, idealnya diproduksi tidak secara masif, agar efek negatif seperti tingkat debu dan kanibalisme bisa ditekan seminimal mungkin. Namun jika telur diproduksi secara massal, tentu saja aspek negatif yang muncul kian besar dan pada gilirannya akan membuat biaya produksi juga kian membengkak. Penulis merupakan koresponden Poultry Indonesia di New York, AS. Tulisan diolah dari berbagai sumber.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 48 dengan judul “Mengamati Tren Telur Cage Free”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153