Tren telur yang dihasilkan dari budidaya Cage Free (Foto : Mercyforanimals.org)semakin menyeruak di Eropa dan AS
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pada tahun 2014, sebuah jajak pendapat melaporkan bahwa 62% masyarakat California menyatakan mereka lebih memilih makan di restoran yang hanya menyediakan telur cage-free. Sebuah Farm Animal Welfare Survey pada tahun yang sama menemukan bahwa 76% dari masyarakat Amerika Serikat (AS) bersedia membayar lebih untuk produk broiler, telur, dan dairy yang dipelihara dengan mengutamakan prinsip hewani. Kemudian industri peternakan pun mulai memproduksi apa yang diinginkan konsumen.

Sejak beberapa tahun terakhir, perusahaan makanan dan retailer raksasa seperti McDonald’s hingga Walmart menyatakan komitmennya untuk hanya menjual telur cage-free atau bebas sangkar. Ratusan perusahaan retail, restoran dan produsen makanan lain juga mengikuti tren ini, mayoritas dengan batas waktu 2025

Saat ini, sekitar 16,8% telur yang diproduksi di AS adalah cage-free. Untuk memenuhi tuntutan peritel dan para pelaku usaha jasaboga yang menargetkan tahun 2025 sebagai batas waktu, jumlah ayam petelur perlu ditingkatkan secara signifikan. Kendati konversi ke cage-free dan kandang-kandang baru sudah mulai dibangun, namun di permukaan masih ada keraguan akan pangsa pasar yang sesungguhnya. Apakah benar pangsa pasar sebesar yang diperkirakan, karena perbedaan harga yang cukup signifikan antara telur cage-free dan telur konvensional. Belum lagi terminologi cage-free yang masih membingungkan, membuat beberapa produsen telur besar mengesampingkan sementara rencana konversi hingga tanda-tanda yang pasti muncul.
Baca Juga : Dampak Perang Dagang AS Terhadap Produk Pertanian 
Pada dasarnya, industri telur harus mengidentifikasi sendiri cara yang paling layak untuk mengatur masa transisi menuju target tahun 2025. Diperlukan 200 juta ekor tambahan ayam petelur cage-free, jika angka permintaan seperti yang diklaim oleh produsen makanan, restoran dan retailer benar adanya. Dari segi produksi, konversi dari kandang battery ke cage-free diperkirakan akan memakan biaya lebih dari US$ 10 miliar. Menurut beberapa produsen, biaya produksi telur cage-free tiga kali lipat lebih mahal dibanding kandang konvensional.
Namun yang lebih penting dari semua hal tersebut, para produsen telur dan peritel dengan cepat memahami bahwa masa transisi sampai target tahun 2025 adalah masa untuk menimbang semua kompleksitas yang muncul. Industri telur—yang pada umumnya perusahaan keluarga— tidak mungkin mengubah dan menambah investasi jutaan dolar hanya berdasarkan pengumuman sejumlah perusahaan.
Baca Juga : Dunia Membalas Tarif AS
Untuk melihat keyakinan, pengetahuan, dan kesediaan konsumen membayar lebih harga telur cage-free, Dr. Jayson Lusk, seorang professor dan Kepala Departemen Ekonomi Pertanian Purdue University melakukan satu proyek riset. Hasilnya, kita akan memerlukan setidaknya tiga kali lipat jumlah ayam petelur yang dipelihara secara cage-free untuk memenuhi komitmen ratusan perusahaan tersebut. Ini merupakan peningkatan yang cukup dramatis yang memerlukan dana miliaran dolar, waktu, dan energi. Kemudian, Lusk dan timnya mencari jawaban apakah pasar telur cage-free memang benar – benar sebesar itu untuk mendukung konversi ke cage-free. Mereka juga bertanya apakah konsumen benar-benar bersedia membayar lebih untuk produk telur cage-free. Menurut Lusk, jawaban singkatnya adalah tidak. Penulis Merupakan koresponden Poultry Indonesia di New York, AS.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 48 dengan judul “Mengamati Tren Telur Cage Free”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153