Telur yang baik didapat dari perlakuan dan manajemen yang baik pula. (Foto : PI_Adam)
POULTRY INDONESIA, Jakarta –  Egg Drop Syndrome (EDS) merupakan penyakit yang menyerang unggas petelur seperti layer. Penyakit EDS ini selain banyak menjangkiti layer, juga sering menyerang unggas air seperti itik dan angsa. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa penyakit EDS ini belum membahayakan ayam pedaging (broiler).
Penyakit ini pada mulanya ditemukan oleh Van Eck di Belanda pada Tahun 1976. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya ditemukan pula di beberapa negara di Eropa yang kemudian menyebar ke Asia, termasuk ke Indonesia. Penyakit EDS disebabkan oleh virus adenovirus. Hal ini juga dijelaskan oleh Dhinakar dalam penelitian yang berjudul Genomic Characterization Of Indian Isolates Of Egg Drop Syndrome 1976 Virus. Ia menyatakan EDS adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh adenovirus dari familia adenoviridae.
Baca Juga : Ada Apa dibalik Penarikan 200 Juta Telur AS?
Virus EDS termasuk ke dalam group III Avian Adenovirus. Adanya infeksi penyakit EDS ini ditandai dengan penurunan produksi telur yang terjadi secara mendadak. Penurunan produksi ini baik berupa penurunan kuantitas, banyaknya jumlah produksi, maupun kualitas telur yang dihasilkan. Sedangkan ayam yang terkena EDS ini tampak sehat dan tidak terjadi keanehan dalam tubuhnya. Penurunan produksi telur ini tercatat antara 20% hingga mencapai 40%.
Manajemen kandang memang masih menjadi upaya nomor satu untuk pencegahan penyakit baik infeksi virus, bakteri, jamur, parasit, dan mikroorganisme lainnya. Manajemen kandang ini memang harus benar-benar dilakukan dan bukan hanya formalitas belaka. Setelah manajemen diterapkan, harus dipilih bibit yang bebas dari penyakit EDS ini. Wajib pula dipastikan kalau bibit yang kita peroleh adalah bibit yang bebas dari cemaran penyakit.
Baca Juga : Waspada Koksidiosis Pada Unggas
Penanggulangan selanjutnya adalah melakukan program vaksinasi. Saat ini semakin banyak vaksin yang dijual oleh perusahaan. Pemilik harus memastikan jika ternak merekamemang sudah diberikan vaksinasi EDS dengan benar. Dalam beberapa kasus ternyata masih ada juga beberapa ayam yang terkena EDS meskipun sudah dilakukan vaksinasi.
Kasus EDS terkadang dapat ditemukan juga pada ayam petelur yang telah divaksinasi ditandai dengan gejala penurunan produksi telur. Hal ini kemungkinan karena vaksin yang digunakan tidak bagus. Pada umumnya, vaksinasi EDS dilakukan pada ayam petelur sebelum masa berproduksi yakni pada umur 14-16 minggu tanpa diikuti dengan vaksinasi ulangan atau booster. Dengan demikian, titer antibodi yang terbentuk merupakan respon imun primer yang sangat menentukan tingkat kekebalan ayam petelur terhadap penyakit EDS. Chusnul, Domi
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2018 di halaman 68 dengan judul “Melindungi Telur dari Ancaman Egg Drop Syndrom. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153