Memasuki Industri perunggasan 4.0 yang memanfaatkan teknologi tinggi seperti cloud computing dan artificial intelligence
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Istilah Fourth Industrial Revolution (4IR), atau yang biasa dikenal dengan Revolusi Industri 4.0, telah bergaung sejak beberapa tahun terakhir. Revolusi tersebut juga memiliki pengaruh pada modernisasi industri perunggasan. Perubahan itu erat kaitannya dengan perpaduan internet yang lebih masif. Kini, sering kali muncul istilah “industri perunggasan 4.0” yang mengusung proses produksi cepat, akurat dan efisien. Tahun 2019 pun menjadi momen pematangan industri ini.

Pola otomatisasi yang mengandalkan internet telah berlangsung pada ragam segi kehidupan. Industri perunggasan pun menjadi sektor yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.

Mario Hermann dan kolega dalam “Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios”, yang diterbitkan pada Hawaii International Conference on System Sciences (HICSS) 2016, mencoba merumuskan pengertian tentang Industri 4.0. Menurut mereka, era ini ditandai dengan bertambahnya nilai dan fungsi internet dalam kegiatan industri. Dalam perkara umum, kondisi tersebut dikenal dengan istilah Intenet of Everything. Adanya Industri 4.0 memungkinkan proses produksi lebih tersistematis dengan efektivitas sebagai tujuan (Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 halaman 25).
Dalam sebuah ulasan berjudul “Making Indonesia 4.0” yang dirillis oleh Kementerian Perindustrian, tertera bahwa Revolusi Industri 4.0 mencakup beragam teknologi canggih, seperti artificial intelligence (AI), internet of things, wearables, robotika canggih, dan 3D printing. Indonesia pun akan berfokus pada lima sektor utama untuk penerapan awal dari teknologi ini, yaitu makanan dan minuman; tekstil dan pakaian; otomotif; kimia; serta elektonik. Jika dibandingkan dengan negara lain, sektor makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya pertanian yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar.
Baca Juga : Produk Olahan, Pasar Besar dan Potensial Masa Depan
Kementerian Perindustrian pun menyiapkan empat langkah untuk mengoptimalkan sektor tersebut. Pertama, mendorong produktivitas di sektor hulu yaitu pertanian, peternakan, dan perikanan, melalui penerapan dan investasi teknologi canggih seperti sistem monitoring otomatis dan autopilot drones. Kedua, karena lebih dari 80% tenaga kerja di industri ini bekerja di UMKM, pemerintah akan membantu UMKM di sepanjang rantai nilai untuk mengadopsi teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi dan pangsa pasar. Ketiga, berkomitmen untuk berinvestasi pada produk makanan kemasan untuk menangkap seluruh permintaan domestik di masa datang seiring dengan semakin meningkatnya permintaan konsumen. Keempat, meningkatkan ekspor dengan memanfaatkan akses terhadap sumber daya pertanian dan skala ekonomi domestik.
Sementara itu, menurut CEO Perkasa Group Audy Joinaldy, Revolusi Industri 4.0 di sektor perunggasan Indonesia masih mengalami hambatan, apalagi budi daya unggas yang ada saat ini masih didominasi oleh pola tradisional. Ia menuturkan bahwa revolusi tersebut sebetulnya tren yang terjadi di negara-negara maju. Namun, karena Indonesia juga ikut serta dalam persaingan global, maka tidak ada pilihan kecuali mengikutinya. “Jadi memang, untuk mencapai itu, kita harus mempersiapkan diri sekuat mengkin. Melakukan sinergisme dengan semua pihak seperti pengusaha, pemerintah dan akademisi supaya 4.0 itu betul, bukan ‘4.0-4.0-an’ (ikut-ikutan saja),” jelasnya.
Baca Juga : Evolusi Industri Perunggasan 4.0
Berkaitan dengan Industri Perunggasan 4.0, Dekan Fakultas Peternakan Universtias Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Ir. Ali Agus berpendapat bahwa mengadopsi teknologi terkini untuk bidang perunggasan adalah sebuah keniscayaan. Sebab, jika tidak dilakukan, maka sektor peternakan nasional akan tertinggal. “Kecepatan informasi menjadi hal yang penting karena menentukan kecepatan dalam bisnis lokal, regional maupun internasional. Karenanya adopsi teknologi adalah sebuah keniscayaan agar kita tidak menjadi korban adanya teknologi, melainkan menunggangi teknologi untuk kepentingan bisnis,” jelasnya pada Kamis, (6/12/18).
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Memantapkan Langkah Industri Perunggasan 4.0”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153