Oleh : Prof. Dr. Sofyan Iskandar
Namun yang patut diketahui, upaya pemurnian semua rumpun ayam tidaklah mudah, karena membutuhkan dana kerja dan kandang yang memadai. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Penelitian Ternak saat ini yakni dengan melakukan pemurnian untuk galur murni (KUB-1, KUB kaki kuning, SenSi-1 Abu, SenSi-1 Pucak (putih bercak hitam), ayam Gaok.

Saat ini terdapat lebih dari 33 ayam lokal asli dan lokal pendatang yang teridentifikasi di tanah air, dan memiliki potensi untuk dijadikan sebagai galur murni ayam lokal khas Indonesia.

Rumpun-rumpun ayam lokal tersebut kebanyakan berasal dari beberapa daerah di Indonesia, sehingga diduga bahwa masing – masing galur mempunyai keunggulan dalam berbagai sifat, seperti ketahanan terhadap lingkungan dimana mereka dipelihara masyarakat setempat. Keunggulan – keunggulan inilah yang akan dimanfaatkan para pemulia unggas untuk membangun grand parent stock (GPS) dan parent stock (PS) untuk menghasilkan keturunan komersial atau final stock (FS) untuk dibudidayakan masyarakat sebagai penghasil daging dan telur unggas lokal.
Kriteria seleksi bibit ayam lokal
Khusus bagi para peneliti pemuliaan ayam, penentuan kriteria seleksi sangat penting, karena akan menentukan kualitas produk hasil pembentukannya yang sesuai dengan permintaan pasar. Sebagai contoh, telah ditetapkan bahwa kriteria seleksi ayam KUB-1 adalah produksi telur di atas 50% produksi induk harian (hen day production) dan sifat tidak mengeram. Untuk pembentukan ayam SenSi-1 Agrinak, kriteria seleksi yang dipakai selain keseragaman warna bulu, jengger dan tampilan, juga permintaan pasar berupa bobot tubuh antara 700-1000 g/ekor saat umur potong 10 minggu.
Baca Juga : Kabar Bisnis Ayam Lokal
Jadi dalam hal ini, peneliti pemulia harus dengan cermat memperhatikan kualitas produk akhir ayam hasil seleksi. Tidak jarang para pembudidaya yang menginginkan produktifitas ayam lokal, terutama ayam pedaging lokal unggul memiliki pertumbuhan cepat, sehingga umur panen dapat dipercepat. Namun perlu diperhatikan bahwa upaya melakukan seleksi terhadap salah satu sifat produksi, seperti pertumbuhan daging pada satu galur, ternyata juga dapat menghilangkan sifat-sifat lain yang juga bermanfaat bagikonsumen.
Seleksi pertumbuhan cepat, ternyata juga menurunkan ketahanan tubuh ayam dalam menghadapi lingkungan, misalnya suhu dan kelembaban, serta serangan penyakit, sehingga ayam-ayam modern bertumbuh cepat memerlukan asupan obat antibiotika yang banyak. Di Indonesia larangan pemakaian Antibiotic Growth Promoter (AGP) dalam pakan ayam sudah dilarang pemerintah, bahkan di Eropa sudah sejak lama peraturan ini diberlakukan. Oleh karena itu kiranya perlu kompromi antara peningkatan efisiensi biologis melalui seleksi kebakaan dan tingkat kualitas daging dan ketahanan tubuh perlu dicermati sebelum terlanjur melakukan seleksi secara kebakaan untuk satu sifat yang kita sangat diinginkan. Penulis Merupakan Peneliti Utama Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 102 dengan judul “Membentuk Galur Murni Ayam Lokal Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153