Dibutuhkan SDM yang mumpuni, tangguh, dan cerdas agar tercapai efektifitas dalam berbudidaya sehingga dihasilkan produk hasil unggas yang efisien dan berdaya saing di tingkat global
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Konsumsi daging ayam Indonesia telah berada pada angka 12,9 kg/kap/tahun, sedangkan konsumsi telur mencapai 115 butir/kap/tahun -dan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Semakin meningkatnya konsumsi perkapita masyarakat terhadap telur dan daging ayam, sangat dibutuhkan adanya penyediaan telur dan daging ayam di dalam negeri dalam jumlah yang cukup. Untuk memastikan hal itu, peternak domestik harus lebih diberdayakan sebagai tulang punggung penyediaan produk hasil unggas nasional.
Dibutuhkan SDM yang mumpuni, tangguh, dan cerdas agar tercapai efektifitas dalam berbudidaya sehingga dihasilkan produk hasil unggas yang efisien dan berdaya saing di tingkat global. Untuk itu, sangat mendesak untuk melakukan langkah regenerasi peternak milenial -sebagai pemegang tampuk keberlanjutan usaha perunggasan di tanah air di masa-masa mendatang. Hal itu sejalan dengan program pemerintah, yakni Kementerian Pertanian RI yang telah mencanangkan penciptaan 1 juta petani milenial di 2019 ini. Generasi muda yang dikenal sebagai generasi milenial tersebut diharapkan untuk selalu terlibat aktif dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia, yang selaras dengan kebijakan pemerintah yang mengarah pada pertanian modern atau pertanian 4.0.
Baca Juga : Urgensi Perbaikan Sarana dan Prasarana Peternakan
Generasi millenial adalah kalangan generasi muda yang sangat merupakan digital native, hal yang sangat jauh berbeda dengan digital migration. Generasi digital native sudah berkembang di era digital, dengan pola pikir sangat berbeda, lebih cepat, lincah dan lebih terbuka, dan selalu tidak puas dengan kondisi yang ada atau selalu mencoba hal yang baru. Mereka melek teknologi, dan karena itulah yang membuat mereka lebih adaptif terhadap perubahan. Maka tantangan ke depan, bagaimana membuat dan mendorong para generasi milenial ini menjadi bagian penting di bidang perunggasan, baik yang bekerja di swasta, birokrasi maupun lembaga penelitian.
Satu satu sarana yang dibutuhkan para peternak milenial adalah teknologi informasi. Teknologi informasi sangat menentukan keberhasilan usaha perunggasan, misalnya apakah usahanya akan berhasil atau tidak, menguntungkan atau tidak, efisien atau tidak. Sarana informasi yang paling efisien saat ini adalah smartphone (telepon pintar) yang mayoritas kaum milenial telah memilikinya. Melalui telepon pintar, informasi-informasi yang dibutuhkan ke peternak milenial dapat disebarluaskan secara seketika (realtime).
Baca juga : Memantapkan Langkah Industri Perunggasan 4.0
Dalam aktivitasnya, para peternak milenial dapat diorganisasi dalam sebuah kelompok ternak. Kelompok ternak itu dapat disinergikan dengan adanya pengembangan desa-desa peternakan atau mengintegrasikan desa sebagai sebuah usaha peternakan. Pola pembangunan desa yang berbasis pada peternakan akan dapat meningkatkan perekonomian desa. Salah satu pola pembangunan desa itu yakni dengan usaha kemitraan perunggasan bersama para kelompok peternak yang ada di pedesaan. Kemitraan ayam dapat memberikan manfaat bagi peternak, karena peternak mendapatkan pengetahuan tentang teknis pemeliharaan ayam di setiap tahapan, termasuk pengukuran indeks prestasi dan pengumpulan data, sehingga memiliki pola pikir  pencapaian performa kandang. Selain itu peternak juga mendapatkan akses terhadap pinjaman sarana produksi ternak (sapronak) dan adopsi teknologi pemeliharaan ayam.
Sistem pendataan terhadap peternak dan kelompok ternak menjadi sangat penting untuk dikembangkan agar bisa mengetahui karakteristik dan pemetaan peternak di Indonesia. Informasi mengenai peternak milenial ini sangat dibutuhkan untuk mengetahui kondisi peternak sehingga dapat digunakan untuk mendukung perencanaan strategis bagi peningkatan kualitas hidup peternak melalui bisnis di bidang perunggasan. Dengan sistem informasi yang baik, maka akan dapat mendorong para peternak milenial untuk menggapai harapan masyarakat perunggasan Indonesia: mampu memenuhi kebutuhan protein hewani asal unggas dari dalam negeri sendiri, dan bahkan mampu melakukan ekspor. Dengan sumber daya alam yang melimpah, dan sumber daya manusia utamanya generasi muda milenal, maka diharapkan harapan besar masyarakat perunggasan itu dapat terwujudu di masa datang. PI
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2019 dengan judul “Mencetak Peternak Milenial. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153