Vaksinasi di unit penetasan diklaim mampu mengurangi potensi kontaminasi
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt
Berkembangnya genetika ayam ras pedaging yang mendukung pertumbuhan bobot badan dengan lebih cepat, ternyata harus mengorbankan hal lainnya. Selama 30 tahun terakhir, periode pertumbuhan broiler telah berkembang sedemikian rupa. Zaman dulu, untuk menghasilkan ayam dengan bobot 1,5 kilogram membutuhkan waktu 65 hari, sekarang bisa didapatkan hanya dalam waktu 35 hari saja. Namun, di balik hal tersebut, broiler harus mengorbankan perkembangan imunitas antibodi alamiahnya. Maka dari itu perlu adanya vaksinasi ulang di lapangan untuk meningkatkan kekebalan antibodi dari ternak itu sendiri.

Seiring dengan perkembangan zaman yang dituntut untuk serba cepat, perusahaan penyedia vaksin berlomba-lomba untuk menyediakan vaksin in ovo di hatchery. Nilai tambah berupa perlindungan menyeluruh serta efisiensi waktu dan tenaga, memberikan opsi baru bagi para peternak.

Konsep vaksinasi yang biasanya dilakukan selama ini adalah konsep vaksinasi lapangan mulai dari umur 7 hingga 14 hari untuk broiler. Program tersebut sudah disusun lengkap. Program vaksinasi juga harus dibarengi dengan tata laksana vaksinasi yang baik dan benar yang meliputi pengiriman vaksin, penyimpanan vaksin, persiapan vaksinasi, pelaksanaan vaksinasi serta tindakan setelah vaksinasi.
Program vaksinasi tersebut biasanya dilakukan secara injeksi (in ovo maupun subkutan) atau juga dilakukan secara aplikasi lokal (lewat semprotan atau tetes mata, hidung). Selama bertahun-tahun, pengaplikasian vaksin dengan cara seperti disebutkan diatas telah menjadi satu-satunya cara untuk meningkatkan resistensi awal terhadap penyakit. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi yang terus dikembangkan oleh penyedia vaksin, akhirnya muncul jenis vaksin baru berdasarkan imun kompleks atau teknologi vaksin rekombinan.
Baca Juga : Program Vaksinasi AI Menjaga Eksistensi Bisnis Peternakan
Kedua program vaksinasi tersebut memang telah terbukti mampu meningkatkan kekebalan aktif terhadap antibodi alami yang diturunkan secara maternal. Di mana sebelum pengaplikasian terhadap vaksin live secara langsung, perlu dilemahkan terlebih dahulu jika diberikan pada usia dini. Namun pada pengaplikasian vaksin di lapangan, umumnya para peternak dihadapkan dengan realita lapangan yang sebetulnya tidak mendukung terhadap pengaplikasian vaksin.
Permasalahan lapangan yang kerap kali muncul di lapangan saat hendak memberikan vaksin yaitu memberikan edukasi kepada sumber daya manusia yang bekerja di suatu unit kandang. Contoh kasus, jika akan melakukan aplikasi vaksin killed perlu adanya perlakuan khusus seperti vaksin harus didistribusikan dengan menggunakan styrofoam berisi es batu dan disimpan di dalam kulkas dengan suhu 2-8°C sesuai rekomendasi pabrik pembuatnya. Pada saat akan digunakan, vaksin killed mensyaratkan ‘pencairan’ atau (thawing) terlebih dahulu sehingga suhu vaksin sesuai dengan suhu kamar agar ayam nyaman ketika menerima vaksin tersebut dalam tubuhnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul Mengenal Teknologi Vaksin Sejak dari Penetasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153