Pengembangan unggas lokal perlu melibatkan akademisi, pemerintah dan pelaku usaha
POULTRYINDONESIA, Majalengka – Unggas lokal penyebarannya belum terlalu banyak di daerah Jawa Barat, sehingga mendorong BPPTU Jatiwangi untuk terus berusaha keras melakukan branding dan pemasaran terhadap plasma nutfah asli Jawa Barat ini. Ke depannya, itik rambon dan ayam sentul dapat lebih dikenal dan diminati oleh masyarakat di Jawa Barat.
Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas  sudah mulai melakukan penyebaran bibit ayam sentul ke masyarakat pada tahun 2018 kepada 48 kelompok dengan jumlah 1.000 ekor berupa commercial stock kepada masing-masing kelompok. Tahun 2019 ini, BPPTU Jatiwangi sudah berhasil menambah 10 kelompok dengan jumlah hibah bibit yang sama. Kelompok-kelompok tersebut tersebar di 6 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Ciamis, Kuningan, Majalengka, Indramayu, Subang, Garut dan di tahun ini juga untuk Kabupaten Pangandaran akan ditambah 3 kelompok.
Baca Juga : Atensi Warga AS Terhadap Budi Daya Ayam Lokal
Semakin tingginya minat masyarakat untuk membudidayakan unggas lokal membuat Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas kewalahan untuk memenuhi permintaan DOC ayam sentul dari masyarakat, sehingga masyarakat harus rela menunggu selama 2-3 bulan karena keterbatasan dari kapasitas mesin tetas yang mereka miliki. BPPTU mencoba untuk meningkatkan manajemen mereka dalam peningkatan daya tetas telur sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Ayam sentul pedaging memiliki masa pemeliharaan sekitar 2,5-3 bulan dengan bobot 0,8-1 kilogram tergantung dari pakan yang diberikan. Pakan yang diberikan merupakan pakan ayam pedaging (broiler) sehingga pertumbuhan bobot yang dihasilkan bisa maskimal. Hal ini juga memiliki kesamaan dengan pemeliharaan itik rambon. Pemberian pakan juga berperan untuk mengarahkan unggas dwiguna ini apakah akan dijadikan unggas pedaging maupun unggas petelur.
Baca Juga : Peran Ayam Lokal Memutus Rantai Kemiskinan dan Malagizi
Memang untuk saat ini ayam sentul lebih diminati untuk menjadi unggas pedaging karena kebanyakan rumah makan lebih condong untuk membeli daging unggas dengan bobot di bawah 1 kilogram. Kedua unggas lokal tersebut juga sering digunakan para peneliti dari berbagai universitas. Penelitian yang dilakukan dapat berupa pengujian genetik maupun pengujian pakan. Hasil penelitian tersebut turut memberikan sumbangsih bagi BPPTU untuk meningkatkan manajemen pemeliharaannya.
Suprijanto turut mengajak perguruan tinggi untuk ikut berperan aktif dalam penelitian unggas lokal agar unggas ini nantinya dapat dinikmati oleh setiap masyarakat dan dapat menjadi suatu kekuatan ekonomi di daerah masing-masing. Menurutnya, yang membuatnya optimis adalah bahwa unggas lokal ini akan menjadi pelindungnya industri perunggasan karena terlepas dari campur tangan konglomerat besar. Sebenarnya, unggas lokal ini jika dipelihara secara baik, dapat berpotensi sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat serta berpartisipasi dalam pemenuhan gizi keluarga.
“Selain menjadi kekuatan ekonomi, tentunya yang paling utama yaitu konsumsi protein hewani masyarakat itu menjadi meningkat. Harapannya, 58 kelompok yang sudah dibagikan DOC ayam sentul itu semoga 5-10 tahun yang akan datang akan menjadi pembibit-pembibit baru di wilayahnya masing-masing,” imbuhnya.
Baca Juga : Membentuk Galur Murni Ayam Lokal Indonesia
Pengembangan unggas lokal ini juga giat dilakukan oleh Indrawati Yudha Asmara, S.Pt, M.Si, Ph.D selaku Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Doktor lulusan Charles Darwin University Australia ini menuangkan pikirannya terhadap ayam lokal dalam disertasinya yang berjudul ‘Risk Status of Selected Indigenous Chicken breeds in Java, Indonesia: Challenges and Opportunities for Conservation’. Hanya saja, hasil penelitiannya belum mendapatkan atensi dari pemerintah, karena tampaknya memang susah untuk meyakinkan pemerintah bahwa Indonesia memiliki aset yang luar biasa dari unggas lokal ini.
Indrawati berpendapat, perhatian terhadap unggas lokal ini sangat perlu dilakukan ketika berbicara mengenai pelestarian sumber daya genetik ternak. Bukan tanpa sebab, menurut Indrawati, di antara ayam lokal asli Indonesia, ayam sentul memiliki potensi yang tinggi untuk punah daripada ayam kedu dan ayam pelung karena tidak memiliki nilai sosial yang tinggi. “Kenapa ayam kedu dan pelung akan lebih bisa bertahan dari kepunahan karena memang kedua jenis ini memiliki nilai sosial yang tinggi di masyarakat, keduanya bisa dikatakan lebih digunakan bukan untuk ternak konsumsi,” terangnya. Esti, Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2019 dengan judul “Eksistensi Ayam Lokal di Jawa Barat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153