Budi daya ayam ras di masyarakat didukung oleh industri hulu yaitu penyedia sapronak yang semakin mapan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Budi daya ayam ras memang sudah menjadi bisnis yang matang, dan mampu berkembang berkat segudang peluang yang mampu dibaca dengan baik oleh industri. Sejarah masuknya budi daya ayam ras sebagaimana telah dimuat dalam Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2017 dengan judul “Napak Tilas Bisnis Budi Daya Unggas Tanah Air”. Awal mula Pertumbuhan bisnis budi daya unggas terutama untuk sektor industri, berjalan sejak diberlakukannya UU. No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan UU. No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada era Presiden Soeharto. Kondisi bisnis tersebut semakin menjadi saat pemerintah Orde Baru membuka keran investasi asing pada industri sektor perunggasan dengan dalih pembangunan ekonomi. Undang-Undang No. 1/1967 dan Undang-Undang No. 6/1968 ini kemudian diperbarui pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Usaha budi daya ayam ras baik pedaging maupun petelur memang sudah ada dari tahun 1950-an. Konsumsi masyarakat yang bergeser dari protein nabati menjadi protein hewani turut mendorong perkembangan bisnis budi daya ayam ras.

Setelah diluncurkannya undang-undang tersebut, pemerintah Orde Baru kemudian menggelar karpet merah bagi para investor, baik dari dalam maupun luar negeri pada awal tahun 1970-an. Beberapa perusahaan bidang perunggasan yang membuka usaha di Indonesia pada masa itu seperti Charoen Pokphand (Thailand) tahun 1972 dan Japfa (Indonesia) tahun 1975. Selepas itu, perusahaan-perusahaan asing yang lain turut meramaikan kancah persilatan bisnis budi daya unggas di tanah air seperti Cheil Jedang (Korea Selatan), Malindo (Malaysia), dan New Hope (Tiongkok).
Peluang investasi budi daya ayam ras
Budi daya ayam ras di masyarakat didukung oleh industri hulu yaitu penyedia sapronak yang semakin mapan, sehingga memudahkan masyarakat yang ingin ikut berkecimpung di bidang budi daya unggas sesuai dengan kemampuan finansial. Usaha budi daya ayam ras pada zaman dahulu hanya dipandang sebelah mata, untuk saat ini budi daya ternak broiler menjadi salah satu pilihan sumber penghasilan utama yang sedang digandrungi masyarakat.
Baca Juga : Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura bag.1
Tak sedikit warga yang awalnya hanya coba-coba namun kini mendulang sukses. Salah satunya Hj. Ani Musarofah yang merupakan warga Desa Kalipucang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sudah belasan tahun Ani dan keluarga besarnya di Brebes menjalankan roda bisnis budi daya ayam dengan pola kemitraan. Alasan harga kontrak yang jelas dari perusahaan serta penjaminan suplai DOC, pakan, dan vaksin menjadi pilihan yang menarik baginya.
Saat ini Ani tak perlu khawatir dan resah lagi karena aroma yang tak sedap yang kerap dihasilkan dari kegiatan beternaknya. Kandang rangka besi dengan fasilitas serba modern yang dimilikinya, selain mampu untuk menekan menyebarnya aroma tak sedap juga mampu menekan angka kematian. Temperatur di dalam kandang yang terus terjaga, juga membantu performa ayam tetap terpelihara dengan baik hingga masa panen tiba. “Jika pada kandang terbuka kematian itu bisa mencapai angka 2-5%, namun dengan kandang closed house, kematian pada ayam dapat terbilang tak ada, jika pun ada kematian hanya 0.1% saja,” tutur Ani kepada Poultry Indonesia,  Selasa (16/7).
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul Peluang Usaha Budi Daya Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153