Masifnya pembangunan Closed House di wilayah pantura dikarenakan tersedianya banyak lahan untuk pembangunan peternakan unggas
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Geliat beternak broiler juga sudah merambah ke anak muda perkotaan. Salah satunya adalah Sandi Pranata. Pria muda yang berdomisili di Jakarta ini sudah tiga tahun berjalan menggeluti bisnis budi daya broiler di Kabupaten Indramayu. Pada awalnya, seperti teman-temannya yang lain, juga beranggapan bahwa bisnis ayam adalah bisnis yang terkesan kumuh dan tampak tidak keren. Akan tetapi, semua pandangannya runtuh saat ia berkunjung ke peternakan milik temannya di Kabupaten Sukabumi. “Tadinya saya pikir kandang ayam itu kotor dan kumuh, tapi saat saya berkunjung ke kandang closed house milik teman, kandangnya bagus seperti pabrik. Sejak saat itu saya mulai tertarik untuk belajar,” ungkapnya.

Beternak secara mandiri maupun kemitraan pada akhirnya adalah bicara soal keuntungan usaha. Manajamen terbaik harus dilakukan agar hasilnya bisa maksimal.

Sebagai pebisnis muda yang juga bergerak di usaha yang lain, Sandi berpendapat bahwa bisnis budi daya broiler sangat menjanjikan. Perputaran uangnya yang cepat dan hasilnya bisa terukur setiap bulan membuatnya kini lebih banyak fokus di bisnis ayam ketimbang bisnisnya yang lain yang ada di Jakarta. “Bisnis di Jakarta itu biayanya besar, daripada uang itu digunakan untuk sewa tempat di Jakarta yang memang mahal, lebih baik untuk bangun kandang lagi. Saya sedang menargetkan bisa bangun kandang di tujuh lokasi,” ujar Sandi.
Baca Juga : Membentuk SDM Perunggasan Tangguh
Sebagai peternak muda yang tidak berlatarbelakang pendidikan peternakan, Sandi mengaku terlebih dulu belajar cara beternak kepada temannya selama beberapa bulan. Menurutnya, bisnis budi daya broiler tidak bisa hanya dipantau dengan cara duduk manis di kantor. Baginya, menjadi peternak itu harus tahu betul tentang bagaimana merawat ayam beserta manajemen lainnya. Berkat keseriusannya dalam beternak itulah, Indeks Performance (IP) yang diraih tidak pernah di bawah angka 400.
Sandi juga tak menampik bahwa beternak broiler tidak semudah seperti yang dibayangkan, seringkali saat sudah terjun di lapangan, ia menemui kendala yang tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satu kendala yang pernah ia temui adalah masalah air. “Saat mencari lokasi tanah untuk bangun kandang, saya kurang teliti, ternyata jarak kandang dengan laut hanya 11 kilometer yang akhirnya berpengaruh terhadap kualitas air. Saat musim penghujan sebenarnya air tidak asin, tapi kalau masuk musim kemarau airnya jadi asin. Melihat kenyataan itu, saya memutuskan untuk membeli mesin Reverse Osmosis (RO) untuk menangani masalah air. Sejak menggunakan RO, sekarang sudah tidak ada masalah lagi,” tandasnya.
Baca Juga : Sandi Pranata, Pengusaha Muda Millenial
Dalam menjalankan bisnis budi daya broiler, ia lebih memilih untuk bergabung dengan kemitraan daripada beternak secara mandiri. Menurutnya, dengan harga ayam hidup yang berfluktuasi dan seringkali di bawah harga pokok produksi, bahkan sempat menyentuh angka 13 ribu rupiah per kilogram, ia mengaku tidak mau mengambil risiko terlalu besar sehingga lebih baik bergabung dengan kemitraan. “Nilai positifnya kemitraan, kalau harga sedang jatuh, kita tetap dapat harga sesuai kontrak. Terlebih kalau harga pasar sedang bagus, kita juga akan dapat bonus pasar,” jelas Sandi.
Saat ini total kandang closed house bertingkat yang ia miliki berjumlah 4 unit yang berada di dua lokasi, dengan total populasi sebanyak 168.000 ekor. Rencananya, pada satu lokasi yang sama juga akan dibangun 2 unit lagi dengan jumlah populasi yang sama seperti di kandang-kandang sebelumnya. “Dua kandang yang di lokasi ini berukuran 15×93 meter, nanti dua lagi rencananya akan berukuran 15×96 meter. Kalau berdasarkan pengalaman bangun kandang yang pertama dengan ukuran 12×120 meter, ternyata lebih bagus yang ukuran 15×93 meter,” jelasnya saat ditemui Poultry Indonesia di peternakannya yang terletak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (13/4).
Baca Juga : Penguatan Ekonomi Pedesaan dengan Kemitraan Perunggasan
Sementara itu, Tony Waluyo, peternak asal Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, mengatakan bahwa usaha yang telah dirintis selama 7 tahun ini sebenarnya sangat menunjang untuk penghidupan keluarganya. Namun terkadang, sulitnya mendapatkan DOC dan mahalnya harga pakan membuat dirinya lebih memilih untuk mengikuti program beternak secara kemitraan. Menurutnya, risiko kerugiannya lebih kecil ketimbang beternak mandiri yang sebelumnya juga pernah ia lakukan.
Tony mengungkapkan, saat bermitra para peternak hanya menyediakan lahan, kandang dan biaya operasional harian saja, sementara untuk harga jualnya para peternak sudah terikat perjanjian kontrak kerja dengan perusahaan. Jika harga ayam di pasar sedang tinggi, peternak biasanya mendapatkan bonus pasar, namun jika harga ayam tengah melemah para peternak pun masih aman dengan adanya harga kontrak dengan perusahaan.
Baca Juga : Mencetak Peternak Milenial
“Setiap usaha pasti ada plus minusnya, saya mengukur kemampuan finansial. Memilih untuk bernak mandiri berarti terbilang sudah mapan karena untuk beternak ayam mandiri memerlukan modal yang tidak sedikit, sementara jika kita mengikuti kemitraan dengan perusahaan tidak harus bermodal besar, modalnya hanya punya kandang dan untuk biaya operasional karyawan sehari-hari saja, sehingga menurut saya sistem kemitraan ini lebih baik dan banyak diminati para peternak di sini,” ungkapnya.
Saat ditanya perihal dokumen apa saja yang harus disiapkan ketika akan menjadi peternak kemitraan, Tony berujar bahwa untuk bergabung dengan kemitraan sebenarnya cukup sederhana, hanya menyiapkan dokumen data diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), surat keterangan kepemilikan kandang atau kontrak lahan, dan jaminan BPKB kendaraan bermotor atau sertifikat lahan.
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153