Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, di mana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis manufaktur. (Sumber Gambar : researchgate.net)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Peran teknologi dalam industri tidak terlepas dari sejarah manusia yang selalu menginginkan barang dengan harga yang semurah mungkin, juga dengan kuantitas yang sebanyak mungkin. Berawal dari pemikiran dasar itulah, manusia terus melakukan riset dan pengembangan yang pada akhirnya lahirlah revolusi industri yang pertama sekitar tahun 1760 di benua Eropa, lebih tepatnya di Inggris. Penemuan mesin uap untuk membantu tenaga manusia menandakan terjadinya revolusi industri yang pertama. Dimana tidak bisa diingkari merupakan sejarah besar dunia yang telah mengubah hidup kita. Hampir segala benda yang kita miliki saat ini adalah hasil industri.

Teknologi membawa perubahan yang radikal terhadap setiap sendi kehidupan masyarakat, tak terkecuali dunia perunggasan. Peran teknologi dalam dunia perunggasan tidak lepas dari urgensi efisiensi dari setiap mata rantai perunggasan.

Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, di mana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis manufaktur. Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api. Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur, menyebabkan terjadinya gelombang urbanisasi secara masif. Pada akhirnya menyebabkan kelebihan populasi di kota-kota besar Inggris yang menimbulkan banyak masalah sosial.
Baca Juga : Evolusi Industri Perunggasan 4.0
Pada tahun 2017, Klauss Schwab dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” menyatakan bahwa revolusi industri akan mempengaruhi setiap esensi dari kehidupan manusia. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dr. Ir. Arief Daryanto M.Ec selaku dekan sekolah vokasi IPB menjelaskan bahwa dengan penerapan industri 4.0 ini akan mengubah pola hidup masyarakat. “Saya merujuk pada sebuah buku yang ditulis oleh Klaus Schwabb, Industri 4.0 ini akan merubah kehidupan masyarakat. Misalkan dengan adanya industri 4.0 ini akan meningkatkan kecepatan dan keleluasaan serta menghilangkan batas ruang dan waktu. Selain itu juga akan terdapat dampak sistemik yang mengakibatkan ketimpangan. Lalu semua itu diperkirakan akan mengalami tipping point pada tahun 2025 yang akan datang,” ujar Arief di di Kampus Sekolah Vokasi IPB, Bogor (22/1).
Menurut Arief Daryanto, memang dengan penerapan industri 4.0 ini akan berpotensi mengurangi beberapa jenis pekerjaan karena nantinya akan tergantikan oleh mesin otomatis, robotik, dan artificial intelligence yaitu mesin yang mampu ‘berfikir’ dan menyesuaikan dengan karakteristik di pengguna. “Nantinya sebetulnya penerapan industri 4.0 ini akan menghilangkan beberapa pekerjaan seperti admin, kasir, pengemudi kendaraan umum, juga toko-toko ritel. Namun dibalik itu semua industri 4.0 ini juga akan melahirkan banyak pekerjaan baru seperti e-commerce, dunia IT, dan lain-lain,” ujarnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2019 dengan judul “Peran Teknologi dalam Industri Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153