Data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan sebagai bahan acuan dalam penentuan kebijakan oleh pemerintah
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Saat ditemui Poultry Indonesia di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (9/4), Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), mengatakan bahwa data permintaan dan penawaran ini sangat penting.
Menurutnya, dalam kegiatan bisnis apapun, perencanaan itu merupakan sebuah keharusan. Data mengenai berapa permintaan (demand) ke depan harus dibuat, sehingga data untuk penawarannya (supply) juga bisa mengikuti. “Pekerjaan untuk mengumpulkan data ini merupakan pekerjaan pemerintah. Secara teknis sebenarnya GPPU bisa saja mengumpulkan data produksi, akan tetapi untuk saat ini sudah dilarang oleh KPPU untuk mengumpulkan data dari para anggota. Adapun saya memiliki data, itu juga mendapatkannya dari pemerintah. Apakah datanya benar atau tidak, itu wewenangnya pemerintah yang berhak menjawab,” jelasnya.
Baca Juga : Ditjen PKH Gelar Rapat Analisa Kondisi Perunggasan
Dawami mengungkapkan, berdasarkan data yang ia terima dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, potensi produksi DOC FS broiler pada tahun 2019 sebanyak 3.501.779.317 ekor atau dalam rata-rata produksi per minggu sebanyak 69.479.748 ekor. Perhitungan potensi FS broiler tahun 2019 dihitung berdasarkan alokasi impor GPS broiler tahun 2016, 2017 dan 2018. Jumlah impor GPS tahun 2016 sebanyak 691.908 ekor, 2017 sebanyak 671.911 ekor dan tahun 2018 sebanyak 703.702 ekor (Lihat Tabel 1).             
Ketidaksamaan data dari instansi yang berbeda juga ternyata ditemukan lagi. Berdasarkan data yang ia ambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan April 2019, ditemukan angka produksi FS broiler pada tahun 2018 sebanyak 1.891.435.000 ekor (Lihat Tabel 2). Sedangkan jika melihat data yang berasal dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian pada tahun yang sama, jumlah produksi FS broiler pada tahun 2018 sebanyak 3.117.359.741 ekor atau sebanyak 61.852.376 ekor setiap minggunya. Terjadi selisih angka produksi yang sangat besar yaitu 1.225.924.741 ekor.
Baca Juga : Gelar Chick Day 2019, Ceva Usung Smart Poultry Farming
Lain halnya dengan Sigit Prabowo, tim ahli peternak dari Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), dalam panjelasannya kepada Poultry Indonesia yang menemuinya di Bogor, Rabu (10/4), ia memiliki data yang berbeda dengan pemerintah. Berdasarkan data yang ia paparkan, potensi jumlah DOC FS broiler pada tahun 2018 sebanyak 3.699.338 ekor atau 73.414.140 ekor per minggunya. Angka tersebut dihasilkan dari impor DOC GPS sebanyak 414.759 ekor + impor HE GGPS sebanyak 976.000 butir dengan potensi menjadi DOC GPS sebanyak 341.600 ekor (Lihat Tabel 3).
Menurutnya, ada kerancuan data produksi FS broiler pada tahun 2018 yang diduga berasal dari hasil impor HE GGPS pada tahun 2016. Hal tersebut yang membuat data versi peternak dengan pemerintah menjadi berbeda. Sedangkan data versi pemerintah hanya menyebutkan impor DOC GPS saja dan tidak menyebutkan adanya impor HE GGPS. Oleh karena itu, masih menurut Sigit, sangat wajar jika terjadi perbedaan jumlah produksi yang jumlahnya sangat besar setiap minggunya.
Baca Juga : Selayang Pandang Bisnis Kuliner Produk Unggas
Data yang berbeda juga dikemukakan oleh Suryo Suryanta, Kordinator Bidang Advokasi, Hukum dan Kajian Kebijakan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI).  Berdasarkan data yang ia miliki, menyebutkan bahwa rata-rata produksi DOC FS broiler untuk bulan Desember 2018 sebanyak 60.538.859 ekor atau 76.022.608 ekor per minggunya, sedangkan untuk tahun 2019 sendiri berada pada kisaran 59-60 juta atau 76-77 juta ekor per minggunya dengan dua hitungan versi yang berbeda (Lihat Tabel 4).
Suryo berpendapat, pondasi utama untuk mengurai benang kusut industri perunggasan di Tanah Air adalah di data produksi maupun data permintaan (daya beli). Pemerintah dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa data produksi FS broiler tahun 2019 sebanyak 65 juta per minggu, akan tetapi menjadi tidak sinkron ketika itu dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di lapangan yang seolah-olah bahwa tidak terjadi kelebihan produksi karena harga DOC FS broiler tetap tinggi sedangkan untuk harga ayam hidup (live bird) justru anjlok. “Kalau lihat kondisi perunggasan sekarang memang fenomenanya aneh, hal seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan diskusi, perlu kerja serius semua pihak untuk mengurainya,” jelasnya. Farid
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Menilik Perunggasan Menjelang Puasa dan Lebaran”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153