Ketersediaan daging unggas yang melimpah membuat kuliner asal produk unggas sangat bervariatif
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif Indonesia mendefinisikan kuliner yaitu kegiatan persiapan, pengolahan, penyajian produk makanan, dan minuman yang menjadikan unsur kreativitas, estetika, tradisi, dan/atau kearifan lokal; sebagai elemen terpenting dalam meningkatkan cita rasa dan nilai produk tersebut, untuk menarik daya beli dan memberikan pengalaman bagi konsumen.

Berwisata kuliner telah menjadi tren tersendiri bagi kehidupan masyarakat modern. Hal ini membuka peluang bagi siapa saja untuk terjun dalam bisnis kuliner, salah satunya adalah bisnis kuliner produk unggas.

Dalam sejarah kuliner Nusantara, masyarakat Nusantara (Indonesia) sudah mengenal berbagai jenis masakan sejak jaman dahulu kala. Prasasti Rukam (907 masehi) menyebutkan berbagai hidangan kepada para tamu yang hadir di dalam upacara penetapan sima (pemberian daerah perdikan) seperti nasi paripurna timan dengan segala macam lauk pauk deng kakap (dendeng kakap kering), kadiwas (ikan kadiwas), hurang (udang), hantrini (telor), hayam (ayam), gtam (kepiting), gangan hadangan sapi (daging sapi).
Kemajuan kuliner Nusantara dengan rempah yang sangat beragam bahkan menarik perhatian bangsa-bangsa lain seperti Tiongkok, India, dan Persia untuk datang ke Nusantara dan menjalin kerjasama perdagangan. Hingga akhirnya pada abad ke-16, bangsa Portugis datang menguasai dan mulai memperkenalkan rempah-rempah asli Nusantara ke Eropa. Bangsa lain seperti Belanda, Spanyol, dan Inggris akhirnya berduyun-duyun datang dan secara tidak langsung juga turut mewarnai semakin beragamnya jenis kuliner yang ada.
Baca Juga : Akademisi Peternakan Kunjungi Pabrik Food Processing PT CPI
Sejarah sebuah bangsa tentu selalu diikuti dengan sejarah makanannya, karena pada hakekatnya manusia hidup selalu membutuhkan makan. Bahkan, di dalam dunia politik ada istilah food diplomacy, semacam cara untuk mendekatkan hubungan antara dua atau lebih negara melalui makanan khas masing-masing. Maka tidak heran jika ada jamuan makan dalam pertemuan antarpemimpin negara, pihak tuan rumah selalu berusaha menyuguhkan kuliner khas negaranya.
Berbicara tentang kuliner, maka dunia kuliner di era sekarang sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai bisnis sampingan. Sebagai contoh, negara seperti Thailand memiliki cara khusus dalam memajukan industri kulinernya dengan melakukan gastrodiplomacy melalaui Kitchen of The World. Strategi tersebut terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian negara. Berdasarkan data dari Tourism Statistics Thailand 2000-2017, mencatat bahwa jika pada tahun 2002 hanya ada sekitar 10,8 juta wisatawan yang datang ke Thailand, maka pada tahun 2017 telah mencapai 35 juta wisatawan asing sejak diluncurkannya Kitchen of The World.
Baca Juga : Aspek Penting NKV Untuk Menjaga Kualitas Produk Hasil Unggas
Indonesia sebagai negara yang juga sangat kaya akan ragam jenis makanannya, juga terus mengalami pertumbuhan yang baik pada industri kulinernya. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah yang secara tidak langsung juga mendorong meningkatnya angka permintaan terhadap produk kuliner. Terlebih, gaya hidup masyarakat modern yang gemar berwisata kuliner menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengusaha di sektor ini untuk terus berinovasi dalam menyajikan berbagai varian menu. Belum lagi, dengan hadirnya aplikasi online untuk memudahkan transaksi jual beli makanan, semakin menambah geliat bisnis ini untuk tumbuh.
Kuliner berbahan dasar unggas seperti sate ayam, soto ayam, ayam bakar maupun goreng, bebek panggang dan sebagainya merupakan jenis kuliner yang bisa dikatakan paling banyak dijumpai. Alasannya tentu karena harganya yang paling terjangkau oleh semua kelas masyarakat. Berdasarkan data Go Food, sebuah aplikasi online layanan pesan antar makanan, sepanjang tahun 2018, paket ayam mendominasi pemesanan dengan total transaksi sebanyak 10 juta kali. Hal tersebut membuktikan bahwa kuliner berbahan baku daging ayam menjadi kuliner yang paling banyak diminati. Lantas jika melihat begitu ramainya persaingan bisnis kuliner produk unggas pada saat ini, apakah peluangnya masih terbuka lebar untuk para pemain baru? Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Selayang Pandang Bisnis Kuliner Produk Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153