Ciri paling khas dari penyakit Newcastle Disease adalah dengan adanya gejala tortikolis
Oleh drh. Moh Indro Cahyono
Alexander dan Allan pada tahun 1974 mencoba membedakan jenis-jenis virus ND menjadi beberapa grup berdasarkan keganasannya. 1) Velogenic Viscerotropic: Virus ND sangat ganas yang menyebabkan kematian dalam waktu 4 hari dengan ciri adanya pendarahan di proventriculus, misal virus wabah ND di Indonesia. 2) Velogenic Neurotropic: Virus ND ganas, yang menyebabkan kematian dalam waktu 6 hari.  Biasanya diikuti oleh gangguan pernapasan dan gangguan saraf, misalnya virus wabah ND. 3) Mesogenic: Virus ND dengan tingkat kematian rendah, yang menimbulkan gangguan pernapasan dan terkadang gangguan saraf. 4) Lentogenic:  Virus ND yang menyebabkan gangguan pernapasan ringan atau subklinis seperti mengorok dan tanpa menimbulkan kematian, misalnya virus ND strain Lasota atau Clone (Lasota). 5) Apathogenic: Virus ND yang sama sekali tidak menimbulkan gejala sakit ataupun kematian, misalnya virus ND strain V4 (Australia), RIVS-2 (Indonesia), dan Ishii (Jepang).

Newcastle Disease (ND) adalah penyakit ganas pada ayam yang diakibatkan oleh Paramyxovirus. Penyakit ini termasuk penyakit yang ditakuti oleh banyak peternak karena mampu membunuh ayam hingga 80% populasi.

Berdasarkan sejarahnya, virus ND pertama kali ditemukan di daerah Newcastle on Tyne, Inggris, oleh Doyle pada tahun 1927. Tetapi literatur seluruh dunia juga menyatakan bahwa kasus wabah ND pertama kali terjadi di Pulau Jawa pada bulan Maret 1926 dari catatan Dr. FC Kraneveld di Veartzenigundig Laboratorie (sekarang BBLITVET, Bogor) berdasarkan kiriman bangkai ayam dari Batavia. Jika tulisan FC Kraneveld diterjemahkan secara utuh maka akan diketahui bahwa wabah penyakit ayam yang dalam bahasa Belanda disebut sebagai Pseudovogelpest ini menyebabkan gangguan saraf dan tortikolis pada ayam, kematian dalam waktu 7 hari.
Baca Juga : Penggolongan dan Jenis ND di Indonesia
Saat itu wabah ND menyebar dengan cepat mulai dari Jawa Barat ke Cirebon, Semarang, hingga Surabaya hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Gambaran gejala klinis ayam yang terinfeksi ND pada tahun 1926 memiliki kemiripan dengan infeksi ND Genotype 6 (ND G6) yang masuk ke grup Velogenic Neurotropic ND. Sifat neurotropic inilah yang menyebabkan ayam berputar-putar sehingga muncul istilah tetelo yang berasal dari bahasa Jawa “seperti orang gila (telo)”.
Empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1949 Dr. IG Martini dari Italia dan Dr. Kuryana di Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (sekarang BBLITVET, Bogor) sudah melakukan isolasi terhadap virus ND dari wilayah Jawa Barat yang kemudian diberi nama strain Suminta. Isolasi ini kemudian dilanjutkan dengan karakterisasi sifat keganasan virus strain Suminta dengan cara menyuntikkan ekstrak otak ayam yang terinfeksi ke telur ayam berembrio serta beberapa unggas lain seperti ayam kampung, bebek, tekukur, dan merpati yang menunjukan bahwa virus ND strain Suminta (1949) merupakan virus ganas (velogenic). ND strain Suminta kemudian menjadi masterseed bagi vaksin ND pertama di Indonesia yaitu vaksin NCD Dr. Kuryana. Vaksin ini kemudian berkembang menjadi vaksin inaktif NCD yang hingga sekarang masih dianggap vaksin terbaik karena bisa disimpan di suhu ruang.
Baca Juga : Waspada Ancaman Gumboro pada Peternakan Unggas
Penelitian virus ND di Balitvet berlanjut pada tahun 1974 oleh Dr. Purnomo yang melakukan isolasi dan karakterisasi virus ND ganas asal Bogor yang kemudian diberi nama virus ND strain ITA. Virus ND strain ITA ini kemudian dikembangkan menjadi vaksin inaktif oleh Dr. Lies Parede. Selain itu ia juga mengembangkan antigen bagi pengukuran titer antibodi ND menggunakan uji HI (Hemaglutinasi Inhibisi).  Antigen bagi uji HI ini berasal dari dari virus ND strain RIVS-2 (Research Institute of Veterinary Science—akronim BBLITVET dalam bahasa Inggris), yang merupakan turunan virus ND strain V4 asal Australia. Virus ND strain RIVS-2 merupakan virus yang telah diadaptasikan dengan iklim di Indonesia sehingga menjadi lebih tahan terhadap suhu tropis serta termasuk ke dalam grup virus ND apathogenic, sama seperti virus ND strain V4.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Sejarah, Mitos dan Fakta tentang Penyakit ND di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153