Impor jagung sebesar 100.000 ton yang menimbulkan polemik
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menanggapi rencana impor jagung sebanyak 100 ribu ton oleh pemerintah, Dean Novel yang merupakan petani jagung asal Nusa Tenggara Barat berpendapat bahwa volume impor 100 ribu ton sebenarnya bukanlah jumlah yang terlalu besar. Akan tetapi efek psikologis atas kebijakan impor tersebut yang memang cukup mengganggu para petani. “Motivasi petani akan anjlok, mereka tidak lagi percaya kepada Kementerian Pertanian karena kondisi seperti ini terjadi berulang-ulang sejak rezim-rezim sebelumnya,” ujarnya kepada Poultry Indonesia.
Baca Juga : Demi Stabililtas Pasokan Jagung, Pemerintah Buka Keran Impor
Dean mengungkapkan, sebagai petani jagung, ia berharap ada informasi yang transparan mengenai jumlah ayam yang dimiliki peternak layer. “Kami petani jagung sudah sangat transparan, bahkan semua data kami beberkan mengenai jumlah benih, luas lahan, dan produktivitas hasil panen. Sekarang jika diperkenankan, giliran kami yang minta transparansi jumlah populasi ayam,” ungkapnya.
Secara terpisah, Yeka Hendra Fatika, Direktur Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi (Pataka), mengatakan keputusan importasi jagung yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian merupakan langkah yang sudah tepat. Hanya saja, kebijakan ini dinilai terlambat mengingat masa panen akan datang dalam waktu dekat. “Pengalaman selama ini, impor butuh waktu dua sampai tiga bulan. Jagung diprediksi akan masuk ke Indonesia pada akhir Januari atau awal Februari, ini justru bisa mubazir karena bertepatan dengan masa panen para petani jagung,” paparnya dalam dalam bincang santai bertema Darurat Jagung di Jakarta, Kamis (8/11).
Baca Juga : Klaim Surplus Jagung Diragukan Banyak Kalangan
Menurutnya, importasi jagung jangan dijadikan pemadam kebakaran atas kondisi peternakan nasional, tetapi harus dipandang sebagai cadangan jagung yang sewaktu-waktu bisa digunakan saat diperlukan. “Kementerian pertanian harus berhati-hati dalam memproduksi isu surplus jagung. Logikanya begini saja, jika memang ada surplus jagung, maka tidak perlu juga ada impor gandum untuk pakan, namun fakta mencatat impor gandum selalu meningkat setiap tahunnya,” ujar Yeka.
Yeka berpendapat, jika jagung memang surplus, maka harga jagung bukan mahal seperti sekarang tapi seharusnya justru turun. “Kita bisa bandingkan saat tahun 2015 masih impor sebanyak 3,2 juta ton, petani banyak mengeluh harga jagung anjlok, kalau Kementan klaim surplus sampai 10 juta ton lebih, bisa-bisa mereka tidak mau tanam jagung lagi di musim berikutnya karena harga jagung pasti anjlok tidak karuan,” tuturnya.
Sebagaimana diketahui, harga jagung di tingkat peternak saat ini sudah menyentuh Rp 5.800 sampai Rp 6.000 per kilogram. Harga jagung saat ini sudah jauh melebihi harga acuan penjualan konsumen untuk jagung sebesar Rp 4.000 per kilogram yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018.