Oleh Dr.Lilis Hartati, S.

Gejolak harga pakan yang melanda negeri kita saat ini sepertinya masih berlanjut. Populasi unggas yang mencapai 2. 233, 761 juta ekor (Statistik Ditjen PKH, 2017)  tentunya memerlukan bahan pakan yang sangat besar. Selama ini, peternak unggas masih banyak yang mengandalkan produk pakan pabrikan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi ternaknya. Dengan jumlah pabrik pakan skala besar sebanyak 92 di 11 wilayah Indonesia, dengan kapasitas produksi pada tahun 2017 sebanyak 24 juta ton, menjadi tulang punggung pemenuhan pakan bagi peternak unggas di seluruh Indonesia.

Standar formulasi pakan unggas yang biasa digunakan oleh pabrik pakan ternyata masih tidak bisa lepas dari bahan pakan yang harus di impor dari luar negeri. Dari paparan Ditjen PKH dalam seminar AINI 2018, disebutkan bahwa  kebutuhan bahan pakan yang bisa dipenuhi dari dalam negeri sepenuhnya (100%) adalah jagung kuning, dedak padi, tepung batu, bungkil kopra/kelapa, bungkil inti sawit dan CPO. Tepung ikan produksi dalam negeri hanya 5-20%. Sedangkan bahan pakan ternak yang masih impor 100% adalah MBM, bungkil kedelai, rape seed meal, corn gluten meal, Ca phosphate, vitamin dan feed additive, serta tepung ikan -yang masih impor sebanyak 80-95%.

Baca Juga :  Buka Rakernas, Mentan Upayakan Jumlah Petani Milenial Meningkat

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bahan pakan lokal tersebut mampu menyediakan secara kontinyu terhadap kebutuhan industri pakan ternak? Sedangkan bahan pakan lokal sering dikatakan ketersediaannya tidak merata dan kualitasnya tidak terjamin, penanganan pasca panen kurang baik, kadar air masih tinggi, sering ada pemalsuan, sering ada kontaminasi logam, bakteri dan jamur,serta persaingan sebagai bahan pangan.

Dalam kebijakan pakan nasional sudah di sebutkan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan bahan pakan unggas dan pakan ruminansia, pemerintah meningkatkan jaminan mutu keamanan pakan yang diproduksi dan yang diedarkan. Strategi pencapaiannya salah satunya adalah, meningkatkan produksi dan pakan olahan unggas berbasis sumber daya lokal. Dengan strategi seperti itu, berarti optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal harus dilakukan untuk mewujudkan kemandirian pakan.

Bahan pakan produksi dalam negeri yang tidak berkompetisi dengan bahan pangan, yang bisa kita pertahankan produksinya adalah bungkil sawit, dedak padi dan  bungkil kopra/kelapa. Untuk jagung, walaupun dikatakan 100% dipenuhi dalam negeri, dan bahkan bisa ekspor pada tahun 2018, tapi akhirnya masih ada impor juga. Jagung bersaing dengan industri pangan, sehingga akan mudah sekali terjadi gejolak harga ketika produksi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan total untuk industri pakan dan pangan. Daerah sentra jagung adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Gorontalo, Lampung, NTB, NTT dan Sumatera Barat. Kesepuluh wilayah ini memberikan kontribusi produksi sebesar 88, 98% terhadap produksi nasional (Pusdatin Setjen Pertanian, 2017).

Banyak harapan yang kita sematkan ke pemerintah (pusat dan daerah) untuk kemajuan dunia peternakan khususnya perunggasan, tentunya tanpa dukungan dari masyarakat, swasta dan perguruan tinggi, upaya tersebut tidak bisa terlaksana. Gandeng tangan yang erat, langkah yang kompak dan serasi dari berbagai pihak tadi, akan mewujudkan Indonesia yang mandiri pakan dan pangan. Semoga.

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Swasembada Bahan Pakan Unggas, Mampukah ?”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153