Berbagai macam tantangan seperti tertinggalnya infrastruktur menjadi pekerjaan rumah bagi stakeholder untuk mengembangkan perunggasan Kalbar
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Banyak potensi yang bisa dikembangkan khususnya pada sektor perunggasan di Kalimantan Barat. Namun, masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi bagi para pelaku bisnis perunggasan. Seperti urusan logistik yang masih mengandalkan Pulau Jawa untuk sebagian besar penyediaan pakan ternak, infrastruktur yang belum merata  dan menyeluruh, serta terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang mengerti teknis di bidang perunggasan.

Walaupun memiliki segudang potensi pengembangan perunggasan, namun bukan berarti tiada kendala yang mengadang. Beragam solusi perlu diupayakan.

Infrastruktur di Kalimantan Barat perlu ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan. Bagaimana tidak, provinsi terbesar ke-4 di Indonesia ini membutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur agar distribusi komoditas perunggasan dapat tersebar secara merata hingga seluruh pelosok. Dari mulai infrastruktur fisik yang meliputi jalan, pembangkit listrik, penyediaan air bersih, hingga transportasi publik untuk mempermudah pengiriman produk komoditas perunggasan.
Sulitnya menembus daerah pelosok karena infrastruktur jalan yang belum optimal, hingga akses telekomunikasi seluler yang masih sulit diakses oleh masyarakat yang berada di pedalaman, merupakan suatu kendala yang harus segera dibenahi oleh para stakeholder. Dalam proses percepatan infrastruktur ini, sinergi antarpihak pemerintah, perusahaan hingga akademisi sangatlah dibutuhkan.
Baca Juga : Bagaimana Dukungan Pemerintah Terhadap Perunggasan Kalbar ?
Menurut Marketing PT Charoen Pokphand Indonesia area Kalimantan Barat, Chang Chie Bui, terdapat beberapa kendala yang hingga sekarang masih terasa. “Hambatan yang sering dijumpai oleh pelaku usaha dalam menjalankan bisnis di antaranya suplai listrik yang belum menjangkau semua daerah, serta suplai pakan ternak dan bahan pakan seperti jagung yang masih didatangkan dari luar pulau Kalimantan. Akibatnya, sering terjadi kendala dalam pengiriman barang via laut,” ungkapnya, Selasa (31/7).
Selain itu, menurut Chang Chie Bui, kendala dalam berbudi daya di Kalimantan Barat adalah iklim, cuaca, struktur tanah dan ketersediaan air. Kondisi iklim dan cuaca yang dilewati secara langsung oleh garis khatulistiwa memiliki suhu pada musim panas yang relatif tinggi dibandingkan dengan wilayah lain yang tidak dilalui garis khatulistiwa. Ditambah lagi, dengan ketinggian wilayah Kalimantan Barat yang umumnya berada di dataran rendah membuat suhu tinggi pada musim kemarau. “Dari segi gangguan kesehatan, memang tidak pernah ada gangguan penyakit yang luar biasa. Hanya saja gangguan yang sering terjadi adalah ketika cuaca yang ekstrem ketika musim panas. Lalu ketersediaan dan kualitas air juga menurun ketika memasuki musim kemarau,” papar pria yang telah menggeluti usaha perunggasan Kalimantan Barat lebih dari 20 tahun itu. Domi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 24 dengan judul “Tantangan Bisnis Perunggasan Kalimantan Barat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153