Serangan Gumboro biasanya terjadi ketika kekebalan ayam tidak bisa lagi mengatasi serbuan virus dari lapangan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Vaksinasi pada ayam pembibit merupakan langkah terpenting untuk mengendalikan IBD, karena antibodi yang diproduksi induk akan diturunkan melalui telur kepada anak. Antibodi maternal dengan titer yang baik akan memproteksi ayam melawan penyakit IBD. Monitoring titer antibodi juga perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah ayam telah memberikan respons yang baik atau untuk mengetahui aplikasi vaksin sudah dilakukan dengan benar atau belum.

Mengutip World Organization for Animal Health (OIE), pengendalian terhadap penyakit IBD yang efektif adalah dengan melakukan program vaksinasi yang teratur disertai dengan program biosekuriti, diikuti dengan deteksi titer antibodi untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dengan uji serum netralisasi atau ELISA.

Tiga kategori vaksin yang biasa digunakan digolongkan berdasarkan patogenisitasnya yaitu mild, intermediate dan virulent. Tipe vaksin yang digunakan untuk IBD adalah intermediate karena dapat menstimulasi produksi antibodi lebih awal dari pada tipe vaksin mild, tanpa menyebabkan kerusakan bursa Fabricius seperti pada tipe vaksin virulent.
Baca Juga : Memerangi Penyakit NE
Kasus Gumboro bisa terjadi jika kekebalan ayam tidak bisa mengatasi serbuan virus lapangan yang masuk ke tubuh ayam dan virus lapangan lebih cepat sampai di bursa dibanding virus vaksin yang diberikan. Hal ini bisa terjadi karena kondisi ayam yang tidak optimal karena stres (manajemen, lingkungan), titer antibodi induk yang rendah, jumlah virus lapangan yang terlalu banyak, strain virus vaksin yang dipakai tidak cocok dengan virus yang ada di lapangan, dan waktu pemberian vaksin yang tidak tepat.
Meskipun vaksinasi sudah dilakukan, tetapi beberapa data penelitian menunjukkan bahwa kasus IBD masih sering ditemukan di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan oleh kegagalan vaksinasi akibat potensi vaksin yang digunakan mungkin memang rendah; vaksin yang digunakan umumnya adalah vaksin impor, sehingga kemungkinan besar strain berbeda dengan virus yang beredar di lapangan.
Baca Juga : Kenali dan Cegah Coryza pada Puyuh
Pemilihan vaksin yang cocok dengan virus di lapangan sangat penting. Pada saat ini ada banyak macam jenis vaksin yang dijual di pasaran. Dari yang bersifat mild sampai intermediate plus. Kecocokan strain virus dengan lingkungan setempat harus diutamakan. Jika suatu jenis vaksin sudah cocok di farm lebih baik jangan diubah. Virus vaksin yang terlalu keras sebaiknya hindari diberikan terlalu dini, karena bisa merusak sel-sel limfoid di bursa. Oleh karena itu, penyediaan vaksin isolat lokal yang sesuai dengan isolat virus yang ada di lapangan menjadi hal yang sangat penting. Penggunaan vaksin dari isolat lokal diharapkan dapat memberikan proteksi yang lebih baik dari vaksin dari isolat luar.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Waspada Ancaman Gumboro pada Peternakan Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153