Necrotic Enteritis merupakan penyakit yang sering menyerang di peternakan
Oleh : drh. Muhrishol Yafi
Sejumlah pengusaha budi daya ayam akhir-akhir ini sedang berupaya melakukan perubahan dalam peternakannya, yang mengarah pada budi daya secara closed housed atau paling tidak semi tertutup. Semua itu mereka lakukan agar lebih mudah mengontrol dan mengendalikan lingkungan seperti yang dibutuhkan ayam, dan menanggulangi lingkungan luar kandang yang kurang cocok bagi pertumbuhan ayam.

Penyakit pada saluran pencernaan ayam masih menjadi ancaman tersendiri, terlebih lagi di era bebas antibiotic growth promotor (AGP). Kejadian penyakit saluran pencernaan ini tidaklah mudah untuk ditanggulangi, terutama penyakit yang diperparah oleh lingkungan yang kurang bersahabat.

Salah satu penyakit yang sering menyerang saluran pencernaan ayam adalah Necrotic Entritis (NE). Penyakit ini disebabkan oleh aktivitas serangan bakteri yang bersifat sporadik pada ayam, terutama ayam muda yang berumur lebih dari empat minggu. Penyakit ini bersifat langsung dan cepat, serta menyebabkan nekrosis pada mukosa usus halus, terutama jejunum dan ileum. NE dilaporkan telah terjadi di berbagai negara penghasil ayam di dunia, termasuk Indonesia, dan mayoritas terjadi di daerah yang mempunyai populasi peternakan yang tinggi.
Baca Juga : Kenali dan Cegah Coryza pada Puyuh
Penyakit ini ditemukan pada tahun 1961. NE dapat terdeteksi pada ayam umur 2 minggu sampai 6 bulan. Namun, kasus penyakit terbanyak dilaporkan pada ayam pedaging umur 2-5 minggu. Selain itu, kejadian penyakit ini juga dilaporkan telah menyerang ayam petelur komersial pada umur 3-6 bulan. Telah pula dilaporkan adanya kejadian gabungan penyakit NE dan koksidiosis yang terjadi pada ayam dara, pada umur 12-16 minggu yang dipelihara pada kandang baterai.
Tingkat penyebaran penyakit ini sangat cepat dan dapat berlangsung selama 10-14 hari, disertai dengan mortalitas atau tingkat kematian yang ditimbulkan bisa berkisar antara 5- 10 %. Akibatnya, kejadian penyakit ini bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar, terutama apabila kejadian penyakit ini terjadi secara subklinis. Sementara kemunculan penyakit ini secara klinis biasanya sangat singkat, dan sering kali ditandai dengan depresi berat serta diikuti peningkatan kematian secara berkelompok yang mendadak. Semuanya berlangsung cepat. Penyakit ini juga berakibat pada terganggunya pencapaian masa puncak produksi dari ayam petelur.
Baca Juga : Waspada Ancaman Gumboro pada Peternakan Unggas
Penyakit NE disebabkan oleh bakteri dari spesies Clostridium perfringens. Spesies ini merupakan bakteri gram posistif anaerob dan berbentuk batang lurus, membentuk spora. Spesies ini mempunyai lima tipe yang menghasilkan sejumlah toksin. Sedangkan yang menimbulkan penyakit ini pada awalnya adalah diidentifikasi dari Tipe A atau C, dari toksin yang dihasilkan telah diidentifikasi dapat menimbulkan necrosis (kerusakan) pada mukosa usus halus.
Kedua toksin tersebut dapat dideteksi di dalam fases ayam yang terinfeksi. Untuk identifikasi, biasanya melakukan isolasi pada agar darah, yang selanjutnya diinkubasi secara anaerob pada suhu 37° C (98,6 ° F), di mana bakteri ini mampu menghasilkan zona hemolisis secara ganda. Namun, akhir-akhir ini ada sebuah penelitian lanjutan menunjukkan bahwa isolat yang tidak menghasilkan toksin alfa ternyata masih dapat menyebabkan penyakit. Penelitian ini menemukan bahwa ada toksin baru yang disebut NetB yang telah diidentifikasi pada penyakit yang menyebabkan kejadian penyakit ini.
Baca Juga : Amati Gejala Ayam Terjangkit Necrotic Enteritis
Penyakit NE menyebabkan terjadinya enterotoksemia akut (keracunan akut) lantaran adanya racun yang dihasilkan oleh bakteri sehingga menyebabkan kerusakan pada usus, lesi hati, dan kematian. Enterotoksemia ini menyebabkan penyakit klinis paling sering terjadi, baik setelah perubahan mikroflora usus atau dari kondisi yang menyebabkan kerusakan pada mukosa usus. Seperti, kerusakan akibat dari coccidiosis, mycotoxicosis, salmonellosis atau bisa juga karena larva ascaridia. Sering kali kejadian penyakit ini dikaitkan dengan kejadian penyakit coccidiosis yang bersamaan, terutama yang disebabkan oleh Eimeria maxima, dan Eimeria acervulina.
 
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Memerangi Penyakit NE”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153