Tingkat pendapatan masyarakat sangat berpengaruh terhadap naik turunnya konsumsi produk unggas
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berwisata kuliner sudah menjadi semacam tren di kalangan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih cukup baik (masih di atas 5%) dan pendapatan per kapita yang terus meningkat (Rp 56 juta/tahun), membuat gaya hidup masyarakat kita mulai berusaha memenuhi kebutuhan tersiernya seperti berwisata. Selain ingin melihat tempat yang dikunjungi, tentu mencicipi makanan khas daerah tersebut menjadi salah satu daftar yang wajib dipenuhi saat berwisata.
Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata, jumlah perjalanan wisatawan dalam negeri selama tahun 2017 mencapai sebanyak 270,82 juta perjalanan. Sementara itu, pengeluaran wisatawan dalam negeri untuk membeli makanan, minuman, dan tembakau dalam setiap perjalanannya mencapai sekitar 30,20 persen dari total pengeluaran atau rata-rata sebesar 282,60 ribu rupiah. Sedangkan rata-rata pertumbuhan jumlah perjalanan setiap tahun selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir mencapai sekitar 2,61 persen.
Baca Juga : Selayang Pandang Bisnis Kuliner Produk Unggas
Melihat kenyataan yang ada, Pakar Gizi yang juga Guru Besar dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Ali Khomsan mengatakan bahwa memang untuk wisata kuliner tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan perilaku sadar gizi, karena tujuan wisatawan dalam berkuliner yang paling utama biasanya adalah soal citarasa dan kekhasan yang ada dari produk kuliner tersebut. Akan tetapi, produk-produk kuliner asal unggas biasanya masih menjadi primadona di berbagai daerah tujuan wisata. “Memang, faktor gizi masih menjadi pertimbangan kesekian saat berwisata kuliner, namun bagi orang-orang yang sudah memiliki pendapatan lebih dan peduli terhadap faktor gizi, mereka cenderung akan memilih makanan yang memiliki kadar gizi lebih baik. Karena begini, pangan hewani seperti ayam dan telur merupakan produk yang elastis. Produk yang elastis itu perlu pendapatan tertentu untuk mendapatkannya dan kalau pendapatan mereka meningkat, mereka juga akan berupaya meningkatkan belanjanya terhadap produk elastis tersebut,” ujarnya.
Baca Juga : Tantangan dan Peluang Bisnis Kuliner Produk Unggas
Menurutnya, dengan maraknya tren berwisata kuliner, hal tersebut secara tidak langsung turut berdampak baik terhadap isu kesadaran gizi. Masalah gizi seperti anemia dan stunting merupakan wujud kekurangan gizi akibat minimnya konsumsi pangan hewani. Kuliner berbahan dasar daging unggas sebenarnya merupakan salah satu solusi yang dapat mengurangi kasus-kasus tersebut, hanya saja tingkat keterjangkauan masyarakat Indonesia terhadap produk-produk tersebut yang harus lebih diperhatikan. “Kalau masyarakat pendapatannya meningkat, maka akses terhadap produk tersebut bisa lebih mudah sehingga kasus seperti anemia dan stunting akan menurun. Anemia dan stunting adalah cerminan kurangnya kalori, protein, dan beberapa gizi mikro seperti zat besi yang semuanya ada di dalam pangan asal hewani. Yang harus dipikirkan ke depan adalah bagaimana membuat daya beli masyarakat terhadap produk tersebut terus meningkat,” imbuhnya.
Ali Khomsan menambahkan, kalau dari aspek sosialisasi pangan hewani untuk kebutuhan kuliner, maka hal tersebut akan sangat tergantung dari kreasi para penjual itu sendiri untuk bagaimana mempromosikan pangan hewani tadi agar bisa menarik konsumen. Akan tetapi, Guru Besar IPB tersebut menilai bahwa perhatian konsumen terhadap produk kuliner sejauh ini memang masih terpaku pada soal citarasa daripada faktor gizi. “Kita apresiasi beberapa kemasan produk kuliner sudah ada yang menampilkan label komponen gizi. Upaya-upaya seperti ini sangat baik dan harus kita dukung,” tuturnya menutup wawancara dengan Poultry Indonesia di Kampus IPB Darmaga Bogor, Senin (18/2).