Pertumbuhan pembangunan closed house di pantura juga disebabkan oleh meningkatnya pengetahuan masyarakat terkait dengan manfaat yang diberikan dari model kandang tersebut
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perkembangan budi daya broiler di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah bisa dikatakan meningkat pesat pada beberapa tahun terakhir ini. Perawatannya yang tergolong mudah untuk dipelajari serta perputaran uangnya terbilang cepat, membuat sejumlah warga banyak yang beralih untuk beternak. Tak heran jika berkunjung ke wilayah Pantura, banyak terlihat kandang ayam sistem closed house yang pemiliknya pada awalnya bukan berprofesi sebagai peternak. Mereka kebanyakan adalah pebisnis di sektor lain seperti pengusaha properti, pegawai swasta, pegawai negeri, bahkan termasuk juga nelayan yang kemudian ikut terjun pada budi daya broiler ini.
Sistem mandiri masih bertahan
Beternak menggunakan sistem mandiri masih menjadi tumpuan beberapa peternak di berbagai daerah. Salah satunya Agus Tomi, peternak senior asal Desa Jejeg, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa tengah ini sudah merasakan asam garam beternak broiler selama 27 tahun. Awalnya, Agus merupakan seorang nelayan, akan tetapi sejak tahun 1992, ia beralih profesi menjadi peternak broiler. “Saat masih menjadi nelayan, kerap ditimpa cuaca buruk saat melaut, pendapatan sebagai nelayan juga dapat dibilang kecil. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sebagai nelayan dan beralih menjadi peternak,” kenangnya.
Baca Juga : Peluang Pelatihan Peternak Berbasis Daring di Indonesia
Berbekal uang tabungannya yang saat itu hanya 10 juta rupiah, lalu dibangunlah kandang broiler sistem open house dengan populasi sebanyak 2.000 ekor di atas lahan seluas 300 m2 miliknya. Sejak saat itu, peternakannya kian berkembang bahkan kini sudah memiliki kandang sistem closed house. Agus mengaku pada saat itu sedikit sekali pengetahuan yang dimiiliki tentang bisnis budi daya broiler. Ilmu yang ia dapat hanya sekadar hasil perbincangan dengan temannya yang sudah lebih dahulu terjun di budi daya ini.
“Saya mempunyai prinsip bahwa belajar sambil berkarya. Semua saya jalani dengan bersungguh-sungguh dan ahamdulillah bisnis ini ternyata membuahkan hasil sehingga membuat saya lebih bersemangat dalam menekuninya,” ungkapnya.
Baca Juga : Penyebab Lambatnya Pertumbuhan Broiler
Saat ditemui Poultry Indonesia dikediamannya, Sabtu, (13/4), Agus bercerita bahwa selama puluhan tahun dirinya menggeluti bisnis ini, beragam pengalaman beternak sudah banyak yang ia lalui. Salah satunya pernah terjadi kematian ayam dalam jumlah besar setiap harinya akibat cuaca esktrem. “Pergantian musim kemarau ke musim penghujan merupakan titik permasalahan yang utama bagi para peternak kandang opened house. Intensitas curah hujan yang tinggi ditambah cuaca yang amat dingin membuat hampir tiap harinya puluhan ayam miliknya mati,” kenangnya.
Kesungguhan Agus dalam beternak membuahkan hasil. Populasi awal yang hanya 2.000 ekor, hingga saat ini populasinya telah mencapai 100.000 ekor dengan 6 buah kandang yang semuanya berada di satu kawasan. Semua kandang open house miliknya kini sudah dirubah menjadi kandang closed house dengan rata rata satu kandang closed house miliknya memiliki populasi 15.000 hingga 20.000 ekor. (Farid, Boy)
Artikel Sebelumnya : Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura (Bag.1) 
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153