Oleh Jojo, S.Pt., MM.*
Gaung debat capres pada Minggu malam (17/2) merupakan daya tarik tersendiri dan menyedot perhatian publik, sehingga topik swasembada pangan menjadi bahan diskusi berbagai kalangan. Kebutuhan pemenuhan dan aksesibilitas terhadap pangan merupakan hak dasar setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Salah satu sumber pangan esensial untuk warga Indonesia adalah pangan yang berasal  dari sumber hewan ternak, di antaranya daging dan telur.

Isu swasembada pangan selalu menarik untuk diulas. Bahkan isu ini semakin viral ketika menjadi salah satu tema yang dibahas pada momentum debat calon presiden. Banyak orang kemudian semakin memerhatikan sektor pangan ini.

Daging ayam ras merupakan salah satu bahan dari sembilan bahan pokok (sembako) dalam perekonomian Indonesia. Permintaan terhadap komoditas ini terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan riil, perbaikan tingkat pendidikan dan peningkatan kesadaran gizi berimbang. Komoditas ini disukai masyarakat karena secara ekonomis memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan daging ternak lainnya, memiliki rasa dan tekstur (organoleptik) yang baik, ketersediaan semakin beragam dan mudah untuk dimasak (convenience food).
Daging dan telur ayam ras juga mudah serta fleksibel diusahakan dan dihasilkan sehingga dapat dibudidayakan oleh sebagian besar penduduk seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke pelosok perdesaan. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa posisi strategis daging dan telur ayam ras menjadikannya salah satu pilar penting ketahanan pangan nasional (national food security) dan ketahanan ekonomi (national economy security) dalam bidang pemenuhan protein.
Baca Juga : Teknologi Pengawetan Daging Ayam
Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian dan berperan penting dalam menyukseskan ketahanan pangan nasional. Subsektor ini menjadi motor penggerak pembangunan, khususnya di wilayah perdesaan. Bagi perekonomian Indonesia, kontribusi subsektor peternakan dalam kurun waktu empat tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian sebesar 11% pada tahun 2013 dan mengalami peningkatan menjadi  15,8% pada tahun 2017. Sementara itu dari aspek penyerapan tenaga kerja saat ini, kontribusi subsektor peternakan  sekitar 3,84 juta orang  (11,5%), mengalami sedikit peningkatan dari sekitar 11% pada tahun 2012  (Kementan, 2018).
Ketersediaan produksi daging ayam ras dan telur ayam ras Indonesia cukup memadai. Pada tahun 2017, produksi daging ayam ras sebanyak 1.848.061 ton, sementara potensi produksi tahun 2018 sebanyak 3.382.311 ton. Proyeksi konsumsi kebutuhan ayam domestik adalah 3.051.276 ton, sehingga ada potensi  surplus (excess supply) sejumlah 331.035 ton. Adapun untuk produksi telur ayam ras pada 2017 sejumlah 1.527.135 ton, sedangkan potensi produksi pada 2018 sejumlah 2.562.342 ton, dengan proyeksi kebutuhan telur nasional 1.766.410 ton. Sehingga  proyeksi telur ayam ras surplus produksi sebanyak 795.931 ton.
Baca Juga : Konsumsi Daging Tumbuh, Namun Belum Merata
Sejak 2010, pemerintah mengklaim sudah mencapai swasembada daging ayam ras—artinya kebutuhan daging ayam sudah dipenuhi produksi dalam negeri. Indonesia sedang menuju swasembada protein hewani, bahkan pemerinah menyebutkan telah mampu mengekspor ke berbagai negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan tahun 2017 naik sebesar 14,85%  dibandingkan  2016. Nilai ekspor tahun 2017 sebesar  US$623,9 juta (Rp8,5 triliun). Pada 2017 kontribusi volume ekspor subsektor peternakan sebesar 64,07%, dengan negara tujuan ekspor terbanyak adalah Hongkong sebesar 23,10% dan Tiongkok 21,96%.
Tantangan industri perunggasan domestik
Hingga saat ini industri ayam nasional masih dihadapkan pada kendala internal dan eksternal yang menghambat daya saing, pertumbuhan dan kemajuannya. Kendala internalnya adalah fluktuasi harga day old chick (DOC); fluktuasi harga live bird dan telur di tingkat peternak; serta harga produk unggas di pasar yang juga sering mengalami fluktuasi. Selain itu, ada pula hambatan dari tingginya ketergantungan pada impor bibit grandparent stock (GPS), dan tingginya harga pakan yang dipicu kemelut harga dan ketersediaan jagung. Hal itu juga dipersulit dengan persoalan regulasi, infrastruktur dan akses permodalan yang belum berjalan optimal. Adapun faktor eksternalnya adalah tekanan dan ancaman peningkatan ekskalasi persaingan global hampir di semua rantai pasok dan produk olahan berbasis daging ayam ras.
Baca Juga : Konsumsi Rokok Kalahkan Daging Ayam
Industri peternakan dalam negeri, khususnya peternakan ayam, akan terus mengalami tantangan global. Terlebih lagi sejak Indonesia mengalami kalah banding di pengadilan World Trade Organization (WTO) tahun 2017 lalu. Indonesia dinilai telah melakukan pelanggaran perdagangan internasional. Salah satu ancaman yang bisa saja datang menghampiri adalah masuknya produk ayam impor dari berbagai produsen global. Hal itu tentu akan berpengaruh pada harga produk dalam negeri karena produk impor tersebut digadang-gadang memiliki harga yang lebih murah dan kualitas yang tak kalah bagus dari produk lokal.
Mimpi buruk kekalahan negosiasi panel WTO tersebut merujuk akan banjirnya produk paha ayam (chicken leg quarter/CLQ) murah di pasar domestik. Bila tidak diantisipasi sejak dini, maka eksistensi peternak unggas Indonesia skala kecil dan menengah akan tergilas karena kalah efisien. Pada 2016, Brasil memiliki pangsa pasar ekspor daging ayam dunia sebesar 36,4%, kemudian  Amerika Serikat (AS)  28,2%, Uni Eropa 11,9%, dan Thailand 6,5%. Sekitar 12% dari 85-90 juta ton produksi daging ayam dunia setiap tahun dihasilkan AS, Brasil,  Tiongkok dan siap  membanjiri pasar dunia (USDA , 2017). Penulis Merupakan Pemerhati Perunggasan, Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2019 dengan judul “Menuju Swasembada Pangan Hewani”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153