Model kemitraan budi daya ayam ras pedaging telah dikenal masyarakat Bali sejak 1992
POULTRYINDONESIA, Denpasar – Provinsi Bali merupakan salah satu pulau di sebelah timur Pulau Jawa yang menjadi tempat tinggal bagi kurang lebih 3,8 juta jiwa pada tahun 2018. Wilayah Pulau Bali didominasi oleh daerah perbukitan dan pegunungan dengan hampir meliputi sebagian besar wilayah. Relief Pulau Bali merupakan rantai pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Lalu di antara pegunungan tersebut, terdapat gunung berapi yang masih aktif dan sering mengeluarkan abu vulkanik dari perut bumi yaitu Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 mdpl dan Gunung Batur dengan ketinggian 1.717 mdpl.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan peternakan unggas terus bermunculan dan mampu menjadi mata pencaharian utama. Saat ini bisnis perunggasan sudah dijalankan secara profesional. Perusahaan sarana produksi ternak (sapronak) pun hadir dengan berbagai produk dan inovasinya.

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan Kabupaten dan satu Kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibu Kota Provinsi. Selain Pulau Bali, Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya seperti Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan yang ada dalam wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 hektare dengan panjang pantai mencapai 529 kilometer.
Budi Daya Ayam Ras
Perunggasan di Bali masih didominasi oleh populasi ayam ras, baik ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur. Peternakan broiler mulai muncul sekitar 1975. Bisnis ini terus berkembang dan mulai mendapat peminat. Saat ini bisnis perunggasan sudah dijalankan secara profesional. Perusahaan sarana produksi ternak (sapronak) pun hadir dengan berbagai produk dan inovasinya.
Baca Juga : Perkembangan Perunggasan Provinsi Bali
Perusahaan perunggasan itu juga mengenalkan tata cara budi daya unggas yang tersistematis dan modern demi hasil optimal. Oleh karena itu, beberapa perusahaan tersebut ikut membangun fasilitas pendukung budi daya seperti fasilitas pabrik penetasan telur (hatchery) yang dimiliki oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia dan yang paling baru adalah CV Sumerta Jaya yang berada di bawah naungan PT Sumber Unggas Jaya. Sedangkan fasilitas lain yang dibangun oleh perusahaan terintegrasi adalah fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) yang dimiliki oleh PT Japfa Comfeed Indonesia dan PT Charoen Pokphand Indonesia yang rencananya akan diresmikan pada pertengahan tahun 2019.
Hadirnya beberapa perusahaan perunggasan di Bali mempermudah peternak untuk mendapatkan sarana produksinya. Namun, para pelaku budi daya masih memiliki pilihan lain jika dirasa tidak cocok dengan produk sapronak dari perusahaan pembibit yang memiliki hatchery di Bali tersebut. Para pelaku budi daya masih memiliki pilihan untuk mendatangkan DOC maupun obat ternak dari Pulau Jawa khususnya dari Jawa Timur.
Baca Juga : Menengok Budi Daya Broiler di Wilayah Pantura (bag-2)
Menurut Didik Wahyudianto selaku Konsultan Marketing PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Bali, mengatakan bahwa potensi perunggasan di Bali cukup bagus. Hal ini didasari oleh meningkatnya kesadaran konsumsi protein hewani asal unggas yang membuat produksi juga meningkat. Selain itu dengan gencarnya sosialisasi produk olahan unggas, pariwisata Bali yang dikenal dunia, serta peralihan konsumsi dari daging merah (daging sapi, babi, kerbau) ke daging putih (ayam, kelinci) membuat permintaan akan produk unggas juga meningkat. Berbagai peluang tersebut terbukti dengan data internal PT Charoen Pokphand Indonesia yang menyebutkan bahwa perkembangan industri perunggasan di Bali tumbuh sebesar 10 persen per tahun.
Proses perkembangan ini bukan tanpa alasan. Provinsi Bali yang notabene memiliki potensi pasar yang sangat menjanjikan, tentu akibat dari tumbuhnya sektor pariwisata yang selama ini terbukti mampu mendongkrak ekonomi masyarakat. Meningkatnya daya beli juga berpengaruh pada jumlah konsumsi masyarakat terhadap produk unggas berupa daging dan telur. Selain itu, banyaknya jumlah wisatawan dan tumbuh suburnya bisnis perhotelan serta menjamurnya usaha kuliner membuat peluang produsen unggas semakin besar. “Seiring dengan konsumsi yang terus bertumbuh, maka sektor produksi juga harus mampu memenuhi permintaan pasar yang ada. Maka dari itu, untuk meningkatkan produksi, masuklah sistem kemitraan di Bali,” kata Didik saat ditemui Poultry Indonesia di kantornya, Kamis (11/4).
Baca Juga : Cegah Heat Stress dengan Manajemen Sirkulasi Udara
Sistem Kemitraan pada mulanya muncul di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar tahun 1986. Sistem bagi hasil yang mengatur pendapatan sesuai performa unggas ini kemudian mulai dilirik oleh para peternak Bali pada sekitar tahun 1992. “Ketika itu banyak orang beternak dengan kandang seadanya. Kemudian CPI hadir dan membawa banyak ilmu baru. Pihak CPI memberi berbagai penyuluhan bagi peternak untuk menghasilkan produk peternakan yang bagus dari pola budi daya yang efektif. Awalnya banyak orang yang merasa asing dengan sistem kemitraan dan inovasi dari CPI, namun setelah omzet peternakan terus bertambah, semakin banyak pula para peternak yang ingin bergabung dalam sistem kemitraan,” ujar Didik. Domi, Adam
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2019 dengan judul “Potensi Bisnis Perunggasan Bali”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153