
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Jagung merupakan salah satu komponen utama dalam pakan broiler mupun layer. Bagi para peternak layer, ketersediaan jagung bisa menjadi solusi untuk menekan biaya pakan yang merupakan 60% dari biaya produksi. Namun, ketersediaan jagung yang terbatas justru mengakibatkan para peternak layer yang terpusat di Kota Singkawang lebih memilih complete feed sebagai bahan utama pakan ternaknya.
Jika ada pabrik pakan yang bisa menjamin dan memastikan produksi dari petani bisa diserap seluruhnya dengan harga yang kompetitif, para petani pun dengan senang hati beralih menanam jagung
Seorang pengusaha poultry shop di daerah Singkawang, Jimmy Prawira Jamon, mengatakan penyediaan jagung untuk pakan ternak memang sangat terbatas. Para peternak cenderung memilih pakan dengan harga yang murah ketimbang pakan dengan harga yang tinggi. Jika tersedia jagung dengan harga yang masuk akal, maka peternak akan memilih membeli jagung untuk kebutuhan self mixing. “Di sini orangya (peternak) mau cari yang murah. Ketika harga jagung itu mahal, mereka beralih ke complete feed. Nah kalau jagung itu (harganya) turun, biasanya mereka mix lagi. Berhubung sekarang harga jagung masih tinggi, mereka sekarang masih pakai pakan complete,” terang Jimmy, Jumat (3/8).
Pemenuhan jagung lokal untuk peternak layer di Singkawang masih belum mencukupi permintaan. Maka, untuk memenuhi kebutuhan jagung tersebut, para peternak harus mendatangkan jagung dari Pulau Jawa dengan harga yang lebih mahal. “Jagung lokal itu ada, tapi tidak mencukupi kebutuhan para peternak. Sehingga para peternak mau tidak mau mendatangkan jagung dari Jawa lagi,” Kata Jimmy.
Baca Juga :
-
Tantangan Bisnis Perunggasan Kallimantan Barat
-
Bagaimana Dukungan Pemerintah Terhadap Perunggasan Kalbar
-
Meninjau Perunggasan Kalimantan Barat









